Dikirim ke Al Azhar Mesir, Mahasiswa Jatim Bikin Kejutan, Raih Juara Kompetisi Internasional
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pendidikan mahasiswa asal Jawa Timur di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, mulai menunjukkan hasil. Selain menekuni berbagai disiplin ilmu keislaman, sejumlah mahasiswa Jawa Timur tercatat mampu meraih prestasi akademik hingga memenangkan kompetisi internasional.
Sebanyak 123 mahasiswa asal Jawa Timur kini menempuh pendidikan di Al Azhar melalui fasilitasi beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Mereka menjadi bagian dari program pengembangan sumber daya manusia di bidang keislaman yang telah berjalan sejak 2021.
Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. M. Mas’ud Said, melihat capaian tersebut sebagai salah satu indikator bahwa program pendidikan mahasiswa Jatim di Mesir mulai memberikan hasil.
Mas’ud menyampaikan hal itu setelah melakukan kunjungan dan pemantauan mahasiswa Jawa Timur di Kairo bersama tim Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur.
Menurut Mas’ud, mahasiswa Jatim yang ditemuinya tidak hanya memiliki kemampuan dalam memahami literatur Islam klasik. Mereka juga menunjukkan kemampuan akademik dan keberanian mengikuti kompetisi dengan peserta dari berbagai negara.
“Sebagian besar mahasiswa yang saya wawancarai di kampus Al Azhar tidak hanya kuat dalam kitab-kitab klasik, tetapi juga tangguh. Sebagian mereka adalah juara di kampusnya dan menang dalam kompetisi internasional dengan persaingan yang ketat,” ujar Mas’ud dalam laporannya dari Kairo, Mesir.
Mas’ud mengatakan kemampuan mahasiswa Jawa Timur terlihat dari penguasaan bahasa Arab, literatur Islam klasik, hingga aktivitas akademik. Sejumlah mahasiswa bahkan mulai menghasilkan karya berupa buku, ulasan, maupun artikel ilmiah.
Kondisi tersebut, menurut dia, memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak sekadar mengejar kelulusan, tetapi mulai membangun kapasitas intelektual selama berada di lingkungan akademik Al Azhar.
“Rata-rata kader memiliki semangat kelas satu. Saya bangga bisa berdiskusi dengan cendekiawan muda yang memiliki pemahaman Al Quran mendalam. Mereka muda, berprestasi, mandiri, dan penuh semangat,” katanya.
Ia menilai mahasiswa asal Jawa Timur mempunyai potensi untuk menjadi generasi ulama muda yang memiliki penguasaan ilmu keislaman sekaligus kemampuan akademik yang dapat digunakan untuk berkontribusi di Indonesia.
Mas’ud juga mengapresiasi kebijakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam memberikan fasilitasi pendidikan bagi mahasiswa di Al Azhar.
Menurutnya, program tersebut dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menyiapkan kader intelektual Muslim.
“Saya baru memahami bahwa ini adalah tanaman kader yang penting dari Khofifah untuk membuat Islam Indonesia masa depan lebih hebat dan terukur,” ujarnya.
Program fasilitasi mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar telah berjalan sejak 2021. Dari 123 mahasiswa jenjang S1 yang mendapatkan fasilitasi, sebanyak 28 mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan sarjana di berbagai bidang keislaman.
Bidang studi yang ditempuh antara lain tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, serta sejarah peradaban Islam.
Program tersebut kemudian diperluas. Sejak 2025, Pemprov Jawa Timur melalui LPPD memfasilitasi 60 mahasiswa untuk menempuh pendidikan magister atau S2.
Mas’ud menyebut perluasan tersebut menjadi bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia di bidang keilmuan Islam.
“Setelah berpengalaman beberapa tahun, mulai 2025 Pemprov Jatim melalui LPPD meningkatkan program strategisnya dengan memfasilitasi 60 mahasiswa S2 yang memenuhi syarat. Ini menunjukkan program sudah naik kelas,” katanya.
Mahasiswa yang mengikuti program tersebut menekuni berbagai bidang, mulai dari tafsir, hadis, ushul fikih, ushuluddin, pengembangan bahasa Arab hingga studi kebudayaan Islam.
Tak Hanya dari Program Beasiswa Pemprov Jatim
Mahasiswa Jawa Timur yang belajar di Al Azhar tidak seluruhnya berasal dari program beasiswa pemerintah daerah. Sebagian lainnya berangkat secara mandiri melalui dukungan lembaga pendidikan dan pondok pesantren.
Sejumlah pesantren yang mengirimkan santri untuk melanjutkan pendidikan ke Al Azhar di antaranya Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Dalwa Bangil, dan Tebuireng Jombang.
Latar belakang pendidikan pesantren dinilai menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam mempelajari literatur Islam klasik sekaligus memperdalam kemampuan bahasa Arab.
Saat berada di Kairo, Mas’ud bersama tim LPPD Jatim juga berdiskusi langsung dengan mahasiswa di sejumlah tempat tinggal mereka.
Ia melihat mahasiswa menjalani kehidupan secara sederhana dan mandiri selama menempuh pendidikan. Sebagian mahasiswa bahkan memasak sendiri dan bergotong royong memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Sebagian besar mereka produktif, banyak menjadi juara baca kitab klasik, meresensi buku utama para syaikh Al Azhar, dan menerjemahkan berbagai kitab penting,” ungkapnya.
Mahasiswa Jatim Dipantau hingga Kelulusan
Menurut Mas’ud, keberhasilan program pendidikan di luar negeri tidak cukup hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diberangkatkan. Pendampingan dan evaluasi selama masa studi juga menjadi bagian penting.
Pemprov Jawa Timur melalui LPPD melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan mahasiswa, baik dari sisi akademik maupun nonakademik.
Pemantauan tersebut meliputi pendampingan penulisan ilmiah, pemeriksaan kesehatan, kemampuan menulis hingga perkembangan studi dan kelulusan tepat waktu.
Pendampingan dilakukan agar mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik sekaligus memiliki kemampuan akademik dan keilmuan yang memadai setelah kembali ke Indonesia.
Mas’ud menilai keberadaan mahasiswa Jawa Timur di Al Azhar dapat menjadi bagian dari proses panjang pembentukan kader intelektual Muslim.
“Saya yakin kader-kader ini akan mewarnai Islam Indonesia lima hingga sepuluh tahun mendatang, serta menguatkan transformasi kebudayaan unggul yang kita tunggu-tunggu,” katanya.
Ia berharap program tersebut dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak mahasiswa asal Jawa Timur yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya di bidang keislaman, dan mampu membawa pengalaman akademiknya untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Editor: Arif Ardliyanto