Ratusan Tenant di Kawasan Industri Sidoarjo Jadi Potensi Pasar Layanan Keuangan
SIDOARJO, iNewsSurabaya.id – Layanan perbankan menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung aktivitas bisnis di kawasan industri. Kehadiran bank akan mempermudah transaksi keuangan, pembiayaan, pengelolaan arus kas, pembayaran gaji, hingga kebutuhan investasi perusahaan.
Bagi tenant, akses layanan perbankan yang dekat dengan lokasi usaha dapat mempercepat berbagai kebutuhan transaksi. Mulai dari pembayaran kepada pemasok, penerimaan hasil penjualan, pengelolaan cash flow, hingga pembayaran gaji karyawan dapat dilakukan dengan lebih efisien.
Peluang tersebut dilihat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dari aktivitas 544 tenant di Kawasan Industri Safe n Lock Sidoarjo. Selain layanan transaksi, BRI membidik kebutuhan pembiayaan tenant, termasuk untuk pembelian maupun investasi gudang..
Branch Office Head BRI Sidoarjo, Arvian Tristianto, mengatakan keberadaan ratusan tenant membuat kebutuhan layanan keuangan di kawasan industri tersebut cukup besar. BRI pun memperkuat kerja sama dengan pengelola kawasan untuk memperluas akses layanan perbankan bagi para pelaku usaha.
“Tujuannya kita ingin memberikan layanan terbaik untuk para nasabah. Kebutuhan layanan transaksi perbankan dari para nasabah bisa kami layani lebih cepat. Apalagi potensi yang bisa kita garap sangat besar,” ujar Arvian, Jumat (2/10/2026).
Menurut Arvian, peluang tersebut tidak hanya berasal dari kebutuhan transaksi harian perusahaan. BRI juga melihat potensi pembiayaan bagi tenant yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha maupun berinvestasi di kawasan industri.
Salah satunya adalah pembiayaan untuk pembelian atau investasi gudang di Safe n Lock. BRI memiliki program khusus yang memungkinkan kebutuhan tersebut didukung melalui skema pembiayaan perbankan.
“Kalau ada tenant yang mau beli atau investasi gudang di Safe n Lock, itu bisa kita support karena ada program khusus BRI dengan Safe n Lock,” katanya.
Selain pembiayaan, BRI mendorong tenant memanfaatkan layanan digital seperti BRImo dan Qlola, termasuk layanan cash management untuk mendukung pengelolaan transaksi bisnis.
Saat ini, sekitar 24 persen dari 544 tenant di Safe n Lock telah menjadi nasabah BRI dari sisi transaksi. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk memperluas penggunaan layanan BRI di kawasan tersebut.
BRI juga telah melayani kebutuhan payroll sejumlah tenant. Namun, penetrasi layanan tersebut baru sekitar 1 persen dari total tenant.
Arvian mengatakan BRI akan terus memperluas penetrasi layanan, baik transaksi, digital banking, maupun pembiayaan. Targetnya, semakin banyak tenant yang memanfaatkan layanan BRI untuk kebutuhan operasional dan pengembangan usaha.
“Harapannya seluruh tenant di Safe n Lock itu bisa kita akuisisi,” ungkapnya.
Direktur Utama PT Marba Berkah Amanda Tbk, pengelola Kawasan Industri Safe n Lock dan Halal Industrial Park atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Adi Saputra Tedjasurya, mengatakan dukungan perbankan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kawasan industri.
Menurutnya, pelaku industri tidak hanya membutuhkan lokasi untuk menjalankan usaha, tetapi juga membutuhkan mitra keuangan yang dapat mendukung transaksi dan pengembangan bisnis.
“Untuk mengembangkan suatu usaha, kita perlu mitra perbankan yang bisa men-support kita. Dan tentunya men-support klien-klien kita untuk transaksinya di dalam kawasan,” ujar Adi.
Karena itu, keberadaan kantor kas BRI di kawasan Safe n Lock diharapkan dapat memudahkan tenant mengakses layanan perbankan tanpa harus keluar dari kawasan industri.
Saat ini, pengelola memiliki izin pengembangan kawasan industri seluas 1.800 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 200 hektare telah dioperasikan sebagai Kawasan Industri Safe n Lock dengan 544 tenant.
Selain itu, sekitar 796 hektare dialokasikan untuk pengembangan Kawasan Industri Halal atau KEK. Dari area tersebut, sekitar 15 hektare telah dikembangkan dan mulai diisi sejumlah industri, terutama pelaku UMKM.
Industri yang masuk ke kawasan tersebut antara lain bergerak di sektor makanan dan minuman serta usaha yang berorientasi ekspor. "Yang sudah berjalan banyak yang ekspor. Ada yang sampai ekspor ke Panama untuk produk cumi-cumi. Bahkan ada pabrik sambal yang juga ekspor sampai ke Jepang," pungkas Adi.
Editor: Arif Ardliyanto