Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Bisnis Waralaba
Advertisement . Scroll to see content

Inflasi Jatim di Atas Nasional, Tekanan Harga Pangan Masih Tinggi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:39 WIB
  • author Lukman Hakim
Inflasi Jatim di Atas Nasional, Tekanan Harga Pangan Masih Tinggi
Pemprov Jatim menggelar Pasar Murah di depan Kantor Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Inflasi Jawa Timur (Jatim) pada September 2026 tercatat 3,33 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,28 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Jatim tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,53. Sementara secara nasional, IHK September 2026 tercatat 112,31.

Dengan demikian, tingkat inflasi Jatim terpaut 0,05 poin persentase di atas angka nasional. Secara bulanan, Jatim mengalami inflasi sebesar 0,24 persen. Sedangkan inflasi sejak awal tahun (year-to-date/y-to-d) mencapai 2,07 persen.

Plt Kepala BPS Jatim Ir. Herum Fajarwati mengatakan, tekanan inflasi di Jatim terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok tersebut mengalami inflasi tahunan sebesar 4,68 persen dan memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi Jatim, yakni 1,30 persen.

“Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap inflasi Jatim,” demikian berdasarkan rilis BPS Jatim, Sabtu (3/10/2026).

Sejumlah komoditas pangan tercatat turut memberikan tekanan terhadap kenaikan harga. Di antaranya cabai merah, daging ayam ras, beras, minyak goreng, daging sapi, jeruk, serta sejumlah komoditas pangan lainnya.

Selain pangan, tekanan harga juga terlihat pada kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 5,17 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan mencatat inflasi tahunan sebesar 6,73 persen.

Sementara itu, komponen lain yang mengalami inflasi antara lain kelompok kesehatan sebesar 2,47 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 2,37 persen, restoran 2,73 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,14 persen.

Jika dilihat dari kontribusinya, kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,64 persen terhadap inflasi Jatim. Sedangkan kelompok restoran menyumbang 0,29 persen dan informasi, komunikasi serta jasa keuangan sebesar 0,16 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski inflasi umum Jatim berada di 3,33 persen, tekanan harga pada sejumlah kebutuhan masyarakat berada di atas angka tersebut. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 6,73 persen, transportasi 5,17 persen, serta makanan, minuman dan tembakau 4,68 persen.

Di tingkat daerah, seluruh 11 kota yang menjadi wilayah penghitungan IHK di Jatim mengalami inflasi tahunan pada September 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Sumenep sebesar 3,85 persen, sedangkan terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 2,69 persen.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim sendiri terus berupaya menekan inflasi. Salah satunya dengan menggelar Pasar Murah di depan Kantor Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi titik ke-140 pasar murah yang diselenggarakan Pemprov Jatim.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut