Pakar ITS Ingatkan Kesiapan Industri dalam Pengembangan Biodiesel dan Bioetanol
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pengembangan bahan bakar nabati melalui program B50 dan E50 dinilai berpotensi memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Namun, implementasinya perlu memperhatikan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.
Pakar energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar, mengatakan pengembangan biodiesel dan bioetanol menjadi salah satu strategi mengurangi ketergantungan pasokan energi dari luar negeri. Potensi sumber daya domestik, seperti kelapa sawit, tebu, dan singkong, dapat menjadi modal penting dalam pengembangan bahan bakar nabati.
Meski begitu, pemanfaatan komoditas tersebut untuk kebutuhan energi perlu direncanakan secara matang. Hal ini agar tidak menimbulkan persoalan baru. Terutama terkait kebutuhan bahan baku, kesiapan industri pengolahan, dan persaingan dengan kebutuhan pangan.
“Pengembangan biodiesel dan bioetanol menjadi peluang strategis untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya domestik, khususnya kelapa sawit, tebu, dan singkong,” ujar Ary, Jumat (9/10/2026).
Ia menegaskan, implementasi bahan bakar nabati tetap perlu memperhatikan kesiapan industri, keberlanjutan lingkungan, serta keseimbangan kebutuhan energi dan pangan.
Pengembangan B50 dan E50 menjadi bagian dari strategi yang didorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Di tengah kondisi tersebut, ketergantungan pada pasokan energi luar negeri dinilai menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui kombinasi pengamanan pasokan dan peningkatan pemanfaatan sumber daya domestik.
Ary menilai, upaya memperkuat ketahanan energi tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi internasional untuk mengamankan pasokan minyak mentah.
Peningkatan lifting minyak dan pengembangan bahan bakar nabati juga perlu berjalan beriringan untuk mendukung kemandirian energi dalam jangka menengah hingga panjang. Diplomasi energi dapat membantu menjaga keamanan pasokan dan stabilitas harga dalam jangka pendek.
“Sementara substitusi bahan bakar fosil dengan sumber energi domestik berpotensi mengurangi ketergantungan impor apabila didukung kebijakan dan kesiapan industri yang memadai,” terangnya.
Pengembangan bahan bakar nabati membutuhkan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan. Kelapa sawit, tebu, dan singkong memiliki potensi untuk mendukung produksi energi. Namun, pemanfaatannya perlu mempertimbangkan kebutuhan sektor lain serta dampak terhadap lingkungan.
Pengembangan B50 dan E50 berkaitan dengan peningkatan produksi bahan bakar dan kesiapan rantai pasok bahan baku, kapasitas pengolahan, serta tata kelola pemanfaatan sumber daya.
“Modernisasi kilang serta pembenahan tata kelola hulu migas tetap penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Menurut Bahlil, konflik di berbagai wilayah dunia berdampak terhadap rantai pasok industri dan harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut turut memengaruhi Indonesia meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik.
Editor: Arif Ardliyanto