Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Petugas Curiga Lihat Tumpukan di Balik Semak, Ternyata 45 Batang Kayu Jati Diduga Hasil Pembalakan
Advertisement . Scroll to see content

Sawah Retak, Padi Mengering! Petani Banyuwangi Terancam Rugi akibat Kemarau Panjang

Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:06 WIB
  • author Siswanto
Sawah Retak, Padi Mengering! Petani Banyuwangi Terancam Rugi akibat Kemarau Panjang
Kemarau panjang memicu krisis air di Banyuwangi Selatan. Sawah satu hektare milik petani terancam gagal panen, sementara debit irigasi 300 liter per detik harus dibagi ke enam kejuron. Foto iNewsSurabaya.id/siswanto

BANYUWANGI, iNewsSurabaya.id – Kemarau panjang mulai memukul petani di Banyuwangi Selatan. Kekurangan air irigasi membuat tanaman padi mengering, tanah persawahan retak, dan harapan petani untuk memanen hasil tanamannya semakin menipis.

Dampak kekeringan tersebut dirasakan Tukiran, petani asal Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Padi yang ditanamnya kini layu akibat tidak mendapatkan pasokan air yang cukup, sementara biaya pengolahan dan sewa lahan sudah terlanjur dikeluarkan.

Kondisi sawah yang semestinya menjadi sumber penghasilan justru berubah menjadi ancaman kerugian. Tanaman padi tidak tumbuh optimal karena hujan tak kunjung turun selama berbulan-bulan, sedangkan ketersediaan air untuk mengairi lahan semakin terbatas.

Pantauan di lokasi memperlihatkan tanaman padi mulai mengering. Permukaan tanah yang retak menggambarkan parahnya kekurangan air di area persawahan tersebut. Jika kondisi ini terus berlanjut, tanaman berisiko tidak menghasilkan gabah sehingga petani terancam kehilangan pendapatan dari musim tanam kali ini.

Tukiran mengaku kesulitan mempertahankan tanaman padinya di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Lahan seluas satu hektare yang disewanya untuk bercocok tanam kini belum memberikan kepastian hasil.

“Tanaman padi saya layu dan tidak berkembang karena kemarau. Padahal, lahan sawah seluas satu hektare ini kami sewa untuk ditanami padi,” kata Tukiran.

Persoalan yang dihadapi Tukiran bukan sekadar tanaman yang tumbuh tidak maksimal. Modal untuk menyewa lahan sudah dikeluarkan, tetapi minimnya air membuat peluang memperoleh hasil panen semakin kecil. Apabila tanaman benar-benar gagal menghasilkan, biaya yang telah dikeluarkan berpotensi menjadi kerugian.

“Kami pasrah saja meskipun harus merugi. Lahan yang kami sewa tidak bisa menghasilkan karena tidak ada air untuk mengairi sawah,” ujarnya.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut