Limbah Pertanian Disulap Jadi Briket, Usaha Petani di Tuban Ini Hemat Listrik Hingga Rp6,8 Juta
TUBAN, iNewsSurabaya.id – Limbah pertanian yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Melalui pengolahan limbah menjadi briket dengan dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), usaha berbasis potensi lokal ini mencatat kenaikan omzet hingga 114 persen.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari program Kang Ebit: SIMPEL (Sistem Pertanian Terintegrasi Pengelolaan Limbah) yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Tuban. Program ini menggabungkan pengelolaan limbah, pemanfaatan energi bersih, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Produksi briket menjadi salah satu fokus pengolahan limbah dalam program tersebut. Pemanfaatan PLTS untuk mendukung proses produksinya tidak hanya membantu menekan biaya listrik, tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca.
Berdasarkan data program, omzet produksi briket meningkat dari Rp336 juta pada 2025 menjadi Rp720 juta per tahun pada 2026. Kenaikan tersebut mencapai 114 persen, menunjukkan potensi ekonomi dari pengolahan limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Selain meningkatkan nilai ekonomi, penggunaan energi surya dalam produksi briket berkontribusi mengurangi emisi sebesar 5,9 ton CO₂ ekuivalen per tahun. Penggunaan energi tersebut juga menghemat biaya listrik hingga Rp6,8 juta per tahun.
Pengembangan briket merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan limbah pertanian melalui pendekatan ekonomi sirkular. Dalam sistem ini, material yang sebelumnya berpotensi terbuang diolah kembali agar dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai tambah.
Program Kang Ebit: SIMPEL telah memanfaatkan sekitar 205 ton limbah pertanian menjadi berbagai produk. Selain briket, pengolahan dilakukan menggunakan teknologi pembakaran tertutup dengan sistem kondensasi untuk menghasilkan asap cair yang dapat digunakan sebagai pestisida organik serta biochar sebagai pupuk organik.
Pengolahan tersebut turut berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 44,3 ton CO₂ ekuivalen per tahun.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban, Anthon Tri Laksono, mengapresiasi pengembangan program yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Program ini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pemanfaatan limbah pertanian tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan,” ujar Anthon.
Tak hanya berfokus pada pengolahan limbah, Kang Ebit: SIMPEL juga mendukung produktivitas petani di Desa Kapu. Program ini mengoptimalkan dua sumur bor yang sebelumnya terbengkalai melalui penerapan irigasi tetes, irigasi komunal, dan sistem fertigasi.
Sebanyak 25 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Boro Tani Makmur mengelola lahan seluas 3,5 hektare. Setelah penerapan sistem tersebut, frekuensi panen meningkat dari satu hingga dua kali menjadi tiga hingga empat kali dalam setahun.
Omzet petani juga mengalami peningkatan sebesar 76 persen, dari rata-rata Rp850 ribu menjadi Rp1,5 juta per bulan.
Fuel Terminal Manager Tuban, Aan Nurochman, mengatakan program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui pengembangan potensi yang tersedia di lingkungan setempat.
“Integrasi pertanian produktif dan pengolahan limbah diharapkan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” kata Aan.
Manfaat program juga dirasakan oleh masyarakat yang terlibat langsung dalam pengembangannya. Ibnu Fajar, generasi penerus local hero program, mengatakan pengolahan limbah membantu masyarakat melihat hasil panen bukan hanya sebagai produk pertanian, tetapi juga sebagai sumber bahan baku bernilai ekonomi.
“Melalui program Kang Ebit: SIMPEL, kami merasakan manfaat nyata bagi masyarakat. Produktivitas pertanian meningkat, sementara limbah hasil panen yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi. Kami berharap program ini terus berkembang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong potensi Desa Kapu agar semakin dikenal luas,” ujar Ibnu.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menambahkan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan berbasis potensi lokal.
“Melalui Kang Ebit: SIMPEL, kami berkomitmen mendorong kemandirian masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Ahad.
Peningkatan omzet produksi briket menjadi salah satu hasil yang menonjol dari program ini. Pemanfaatan limbah pertanian dan dukungan energi surya memperlihatkan peluang pengembangan usaha yang menggabungkan nilai ekonomi dengan upaya mengurangi dampak lingkungan di tingkat desa.
Editor: Arif Ardliyanto