Di Balik Usaha Kecil, Ada Perjuangan Menjaga Modal dan Menghidupi Keluarga
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjalankan usaha kecil bukan perkara mudah. Di balik warung sederhana, usaha rumahan, hingga bisnis mikro yang tumbuh di tengah permukiman, ada perjuangan menjaga perputaran modal hingga memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi sebagian pelaku usaha, persoalan bukan hanya bagaimana mendapatkan tambahan modal, tetapi juga bagaimana mengelola keuangan, membaca peluang pasar, dan memastikan usaha tetap berjalan. Dalam situasi seperti ini, akses terhadap layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai kebutuhan serta kemampuan pelaku usaha.
Di sinilah interaksi antara tenaga perbankan dan masyarakat memiliki arti penting. Salah satu pihak yang menjalankan peran tersebut adalah Mantri BRI, tenaga pemasar yang berhubungan langsung dengan nasabah dan pelaku usaha di berbagai wilayah.
Kedekatan dengan masyarakat memungkinkan Mantri mengenali kondisi usaha, memahami kebutuhan pembiayaan, serta mengetahui tantangan yang dihadapi nasabah. Namun, hubungan tersebut juga menuntut tanggung jawab agar layanan keuangan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pelaku usaha.
Upaya memperkuat kompetensi dan integritas tenaga perbankan menjadi salah satu perhatian dalam Jambore Mantri 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mempertemukan para Mantri dari wilayah BRI Region 12 Surabaya untuk mengikuti rangkaian pengembangan kapasitas, penguatan kerja sama, dan refleksi terhadap peran mereka di tengah masyarakat.
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 12 Surabaya, Reza Syahrizal Setiaputra, mengatakan kedekatan dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya memperluas akses keuangan dan mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Mantri BRI merupakan ujung tombak dalam memperluas inklusi keuangan dan mendukung pemberdayaan UMKM. Kedekatan dengan masyarakat menjadi kekuatan utama untuk memahami perkembangan usaha, mengenali kebutuhan nasabah, serta menghadirkan layanan keuangan yang relevan,” ujar Reza, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, pemahaman terhadap karakter dan kebutuhan nasabah harus disertai kompetensi, integritas, serta kemampuan membangun komunikasi yang baik. Dengan begitu, interaksi antara tenaga perbankan dan pelaku usaha tidak semata-mata berkaitan dengan transaksi, tetapi juga menyangkut pemahaman terhadap kondisi nyata di lapangan.
Setiap pelaku UMKM memiliki perjalanan yang berbeda. Ada usaha yang sedang merintis pasar, ada yang berupaya mempertahankan pelanggan, dan ada pula yang membutuhkan pengelolaan keuangan lebih baik agar bisnisnya dapat bertahan.
Kebutuhan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan dengan pembiayaan. Sebagian pelaku usaha juga perlu memahami arus kas, memisahkan uang pribadi dan uang usaha, serta memperhitungkan kemampuan membayar sebelum mengambil pinjaman.
Karena itu, akses terhadap layanan keuangan perlu disertai pertimbangan yang matang. Pembiayaan yang sesuai dapat membantu mendukung kegiatan usaha, sedangkan keputusan yang tidak memperhitungkan kemampuan keuangan berisiko menambah beban pelaku usaha.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap nasabah menjadi hal penting dalam hubungan antara perbankan dan UMKM. Komunikasi yang terbuka dapat membantu pelaku usaha mengenali pilihan layanan keuangan sekaligus mempertimbangkan risiko yang menyertainya.
Di sisi lain, pekerjaan yang berhadapan langsung dengan masyarakat juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kerja sama. Tantangan tersebut menjadi bagian dari materi penguatan kapasitas dalam Jambore Mantri 2026.
Rangkaian kegiatan pada hari pertama meliputi sesi motivasi, arahan pimpinan, pemberian penghargaan, dan hiburan. Sementara itu, hari kedua diisi aktivitas luar ruangan berbasis experiential learning yang dirancang untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, kekompakan, serta kemampuan menghadapi tantangan bersama.
Meski dikemas melalui kegiatan kebersamaan, penguatan keterampilan tersebut berkaitan dengan tantangan pekerjaan sehari-hari. Membangun kepercayaan nasabah, memahami persoalan usaha, dan memberikan layanan secara bertanggung jawab membutuhkan koordinasi serta sikap profesional.
Reza mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat integritas, kepemimpinan, dan semangat kebersamaan para Mantri dalam menjalankan tugas.
“Melalui Jambore Mantri ini, kami ingin memperkuat semangat kebersamaan, integritas, dan kepemimpinan, sehingga setiap Mantri semakin memahami makna profesinya. Kami berharap semangat tersebut tercermin dalam kualitas pelayanan dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Perluasan akses keuangan merupakan salah satu bagian dari upaya mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, terbukanya akses terhadap layanan perbankan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dalam mendukung UMKM.
Pelaku usaha juga membutuhkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan usaha, dan kemampuan membaca risiko. Dengan bekal tersebut, layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara lebih bijak sesuai kondisi masing-masing usaha.
Bagi tenaga perbankan yang bekerja langsung di lapangan, memahami kebutuhan masyarakat menjadi bagian dari tanggung jawab profesional. Kepercayaan tidak terbentuk hanya melalui penawaran layanan, tetapi juga melalui komunikasi yang jujur, penjelasan yang mudah dipahami, dan pelayanan yang mempertimbangkan kepentingan nasabah.
Editor: Arif Ardliyanto