Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 4,58 Juta UMKM di Jatim, Minim Perlindungan Sosial
Advertisement . Scroll to see content

UMKM Risol Surabaya Naik Kelas, Penjualan Melejit 62 Persen Berkat Sentuhan Kampus

Minggu, 08 November 2026 | 10:12 WIB
  • author Hendro Djatmiko
UMKM Risol Surabaya Naik Kelas, Penjualan Melejit 62 Persen Berkat Sentuhan Kampus
UWP Surabaya dampingi UMKM Yummy Bee meningkatkan produksi risol. Penjualan naik 62,37 persen, didukung teknologi, NIB, dan SOP ber-HKI. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dituntut terus berinovasi agar mampu bertahan dan bersaing di tengah perkembangan pasar. Tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk, pelaku usaha juga perlu memperkuat kapasitas produksi, legalitas, standardisasi mutu, hingga strategi pemasaran.

Upaya tersebut dilakukan Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan mendampingi UMKM pangan olahan Yummy Bee di kawasan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya.

Pendampingan ini membawa perubahan pada proses produksi hingga pengelolaan usaha. Mulai dari pemberian teknologi tepat guna (TTG), pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), pembaruan desain kemasan, hingga pendampingan kesiapan sertifikasi halal.

Hasilnya cukup signifikan. Selama periode evaluasi, penjualan produk Yummy Bee meningkat 62,37 persen. Keuntungan usaha juga mengalami kenaikan sebesar 62,73 persen setelah pelaku UMKM menerapkan sejumlah pembenahan yang diberikan tim pendamping.

Program bertajuk Integration of Appropriate Technology, NIB, SOP, and Halal Readiness in Strengthening Yummy Bee MSMEs tersebut kemudian dipresentasikan dalam Konferensi Nasional PKM-CSR ke-12 tahun 2026 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dalam forum ilmiah nasional tersebut, ketua tim pengabdi, Nurleila Jum'ati, S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog, berhasil meraih penghargaan Best Presenter.

"Pendampingan ini dirancang secara komprehensif dari hulu ke hilir. Kami tidak hanya menghadirkan bantuan peralatan, tetapi juga menanamkan tata kelola mutu melalui SOP, pembukuan digital, legalitas usaha resmi, hingga persiapan sertifikasi halal agar UMKM mitra siap bersaing di pasar modern," terang Nurleila.

Sebelum mendapatkan pendampingan, Yummy Bee menghadapi sejumlah persoalan dalam menjalankan kegiatan produksi. Kapasitas produksi masih terbatas, ukuran produk belum seragam, sementara pencatatan operasional usaha masih dilakukan secara konvensional.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim akademisi UWP. Mereka kemudian memberikan sejumlah peralatan teknologi tepat guna untuk mendukung efisiensi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.

Bantuan tersebut meliputi timbangan digital presisi, sendok takar, cetakan risol seragam, chopper untuk mengolah isian, serta mesin vacuum sealer untuk pengemasan produk makanan beku atau frozen food.

Penggunaan peralatan tersebut diharapkan membuat proses produksi lebih terukur. Ukuran risol menjadi lebih konsisten, pengolahan bahan lebih efisien, dan produk beku dapat dikemas dengan lebih baik.

Tidak hanya memberikan peralatan, tim juga menyusun SOP produksi untuk dua kategori produk, yakni risol frozen dan risol siap santap dengan varian rasa matcha dan cokelat.

Menariknya, SOP tersebut telah mendapatkan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Surat Pencatatan Ciptaan dari Kementerian Hukum RI dengan Nomor Pencatatan 001567419.

Dengan adanya pedoman produksi tersebut, Yummy Bee memiliki acuan kerja yang lebih jelas untuk menjaga kualitas dan keseragaman produk.

Aspek legalitas dan keamanan pangan juga menjadi bagian penting dalam program pemberdayaan ini.

Tim UWP memfasilitasi penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi Yummy Bee sebagai identitas resmi pelaku usaha. Legalitas tersebut menjadi salah satu fondasi untuk mengembangkan bisnis dan memperluas peluang pemasaran.

Selain itu, pendampingan juga diarahkan pada kesiapan sertifikasi halal. Prosesnya mencakup pemeriksaan kebersihan ruang produksi, penataan daftar bahan baku, verifikasi pemasok, hingga penelusuran alur formulasi untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi bahan nonhalal.

Dari sisi pemasaran, Yummy Bee juga mendapatkan pembaruan desain kemasan melalui pembuatan mock-up kemasan dan flyer pemasaran.

Kemasan dirancang dengan pendekatan yang lebih modern dan higienis. Produk risol matang menggunakan kotak kardus dengan identitas merek, sedangkan varian frozen food dikemas menggunakan plastik vakum kedap udara.

Pembenahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik produk sekaligus memberikan identitas yang lebih kuat bagi Yummy Bee di tengah persaingan pasar makanan olahan.

Penjualan Risol Naik 62,37 Persen, Keuntungan Ikut Bertambah

Dampak pendampingan tidak hanya terlihat dari perubahan peralatan dan kemasan. Pembenahan sistem produksi yang disertai digitalisasi pencatatan Harga Pokok Produksi (HPP) berbasis spreadsheet juga memberikan hasil terhadap perkembangan usaha.

Berdasarkan data evaluasi program, terdapat peningkatan pada tiga indikator utama bisnis Yummy Bee.

Penjualan produk: meningkat 62,37 persen, dari 93 unit menjadi 151 unit.

Omzet penjualan: naik 62,37 persen, dari Rp372.000 menjadi Rp604.000.

Keuntungan usaha: bertambah 62,73 persen, dari Rp94.607 menjadi Rp153.950 selama periode pengamatan.

Data tersebut menunjukkan adanya perubahan kinerja usaha setelah penerapan teknologi produksi, standardisasi proses, dan pembukuan yang lebih terstruktur.

Pemilik UMKM Yummy Bee, Dyah Ayu Budi Kusuma Ningsih, menyambut positif pendampingan yang diberikan tim UWP Surabaya.

Menurutnya, dukungan peralatan, SOP produksi, serta kepemilikan legalitas usaha memberikan perubahan terhadap cara menjalankan bisnis, khususnya dalam menjaga kualitas produk.

"Hadirnya peralatan, SOP yang jelas, serta kepemilikan NIB membuat kami jauh lebih percaya diri dalam memproduksi risoles matcha dan cokelat dengan mutu stabil. Permintaan kian meningkat dan produk kami kini lebih higienis serta memiliki nilai jual tinggi," ujarnya.

Program pendampingan Yummy Bee melibatkan kolaborasi dosen, mahasiswa, dan pendamping proses halal.

Tim akademisi terdiri dari Arif Ardliyanto, S.Sos.I., M.I.Kom., dan Yuli Ermawati, S.E., M.Ak. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Anas Tasya Aulia dan Annisa Eka Fatmawati, serta pendamping proses halal Risca Ayu Rachmania, SM., MM., dan Nur Aini Azizah, S.Ak., MM.

Keberhasilan program tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.

Melalui program ini, UWP Surabaya menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi langsung terhadap persoalan yang dihadapi pelaku usaha kecil.

Pendampingan yang menggabungkan teknologi, legalitas, standardisasi produksi, dan penguatan pemasaran diharapkan menjadi bekal bagi Yummy Bee untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut juga memperlihatkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghubungkan pengetahuan akademis dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam mendorong UMKM lokal agar semakin produktif dan memiliki daya saing.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut