Mendidik dengan Hati, Mengapa Kebahagiaan Guru Penting?

Ali Masduki
Rahma Kusumandari, Psikolog Pendidikan dari Universitas 17 Agustus (Untag), dalam seminar pendidikan "Mendidik dengan Hati untuk Generasi Berpekerti dan Berprestasi" di MI Muhammadiyah 27 (Mimdatu) Surabaya, Sabtu (7/12). Foto/Ali

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tugas guru sebagai pendidik semakin kompleks. Selain dituntut profesional dalam mengajar dan mencetak generasi berprestasi, mereka juga dibebani berbagai tanggung jawab. 

Beban tersebut dapat memicu stres, sehingga manajemen stres yang baik menjadi kunci bagi guru untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan.

Rahma Kusumandari, Psikolog Pendidikan dari Universitas 17 Agustus (Untag), dalam seminar pendidikan "Mendidik dengan Hati untuk Generasi Berpekerti dan Berprestasi" di MI Muhammadiyah 27 (Mimdatu) Surabaya, Sabtu (7/12), menjelaskan pentingnya kebahagiaan guru. 

"Guru yang bahagia bisa mengayomi diri sendiri maupun siswanya," jelasnya. Seminar ini diselenggarakan Komite Mimdatu sebagai apresiasi terhadap para guru dalam memperingati Hari Guru Nasional 2024.

Rahma mengajak para guru untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi. Mereka tidak hanya dituntut membuat siswa pintar, tetapi juga menghadapi perilaku anak yang beragam, masalah hubungan dengan rekan kerja, dan adaptasi terhadap perubahan kurikulum yang cepat. 

"Hal-hal inilah yang memicu stres seorang guru, terutama jika mereka juga memiliki masalah pribadi," ujar Kepala Pengembangan Karir dan Alumni Untag itu.

Rahma mengingatkan guru untuk peka terhadap tanda-tanda stres dan mengambil langkah untuk mengendalikan sumbernya. "Kenali diri sendiri. Kenapa kok mudah marah? Kendalikan hal-hal pemicu stres," ujar Dosen Fakultas Psikologi Untag.

Rahma juga mendorong guru untuk berfokus pada hal positif. Misalnya, jika ada siswa yang berperilaku buruk, guru bisa mencari tahu penyebabnya dan menggali persoalannya. 

"Mungkin karena anak tidak paham atau ada masalah di rumah. Karena itu, guru hendaknya mencari alternatif pemikiran yang lebih positif," paparnya.

Rahma menjelaskan bahwa stres yang dialami guru akan berpengaruh terhadap siswa dan lingkungan kelas. "The magic word is happy. Tubuh kita bisa memproduksi hormon itu. Murah meriah tidak perlu modal. Happy bisa menjadi antibodi," ungkapnya.

Rahma mengajak guru untuk "menyehatkan" pikiran dan mental mereka dengan mencari inspirasi dari hal-hal positif dan fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan.

Jika guru bahagia, hati dan pikiran pun akan lebih tenang. Maka, akan lebih mudah mendidik dengan hati. Alhasil, apa yang disampaikan guru bisa mengena di hati siswa. Efek jangka panjangnya, siswa tidak hanya berprestasi, tetapi juga berpekerti.

Selain seminar, peringatan Hari Guru juga dimeriahkan dengan lomba membuat poster pendidikan. Lomba antar guru ini berlangsung seru dan penuh kreativitas.

Ketua Komite Mimdatu, Hergian Dinarina, mengatakan bahwa acara ini wujud dari tradisi perayaan Hari Guru. Komite setiap tahun mengelar perayaan ini untuk mengapresiasi seluruh guru. Harapannya, kegiatan ini dapat membawa semangat baru bagi para guru dan menular kepada siswa.

Editor : Ali Masduki

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network