Tradisi kumpulan Bani Masyhudil Millah mulai aktif dilaksanakan sejak tahun 2019. Meskipun sempat terhenti selama satu tahun akibat pandemi, semangat kebersamaan tetap terjaga hingga kini.
“Alhamdulillah, hingga sekarang kegiatan tetap berjalan dengan baik dan kompak, meski ada beberapa yang belum bisa hadir,” ujar Faiq.
Acara ini menggunakan sistem rolling atau bergilir tuan rumah, berdasarkan garis keturunan tertua. Pendanaan acara juga dilakukan melalui iuran dari setiap keluarga yang sudah menikah, dengan bantuan dana sebesar 50 persen untuk tuan rumah.
Perkumpulan Bani Masyhudil Millah diisi dengan berbagai kegiatan yang sarat nilai keagamaan dan kekeluargaan. Mulai dari khataman Al-Qur'an, doa dan tahlilan, tausiyah, hingga sesi kilas balik kisah leluhur dan penyampaian informasi keluarga. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama, foto bersama, dan bersalam-salaman.
“Acara dimulai dengan khataman Al-Qur'an sambil menunggu kedatangan anggota keluarga, lalu dilanjut pembukaan, sambutan, dan tahlilan. Karena Mbah Masyhud dulunya merupakan tokoh NU, kita juga menyesuaikan dengan tradisi setempat,” jelas Faiq.
Sesi informasi menjadi momen penting untuk menyampaikan kabar suka dan duka selama satu tahun terakhir. Kabar baik seperti pernikahan atau kelahiran anggota baru biasanya diperkenalkan secara langsung dalam acara tersebut.
Tradisi kumpulan bani yang dijalankan oleh Bani Masyhudil Millah menjadi bukti bahwa lebaran tidak hanya soal mudik atau berkumpul sesaat. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai kekeluargaan, merawat silsilah, dan melestarikan warisan leluhur.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, acara kumpulan bani ini mampu menciptakan suasana hangat dan penuh makna, serta menjadi contoh positif pelestarian tradisi keluarga di era modern.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait