Untag Surabaya juga terus memperluas akses pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah. Tahun lalu, Pemkot Surabaya memberikan beasiswa penuh kepada 17 mahasiswa program vokasi. Ke depan, skema bantuan pendidikan ini akan diperluas agar semakin banyak anak muda Surabaya yang berkesempatan menempuh pendidikan tinggi.
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, menilai kepemimpinan Prof. Mul terbukti mampu menjaga soliditas kampus. Menurutnya, tantangan besar perguruan tinggi swasta adalah bersaing dengan universitas negeri berbadan hukum yang menyerap banyak lulusan SMA serta masuknya kampus asing di Indonesia.
“Di Surabaya saja sudah ada dua universitas dari Australia. Orang tua dengan kemampuan ekonomi tinggi tentu akan mempertimbangkan ijazah luar negeri. Karena itu, Untag harus bisa memperkuat daya tariknya sendiri dengan kualitas dan kekompakan internal,” tegas Subekti.
Apresiasi juga datang dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang memuji dedikasi Prof. Mul dalam membawa perubahan signifikan sejak periode pertama. “Periode pertama dan kedua telah membawa lompatan besar bagi Untag Surabaya. Di periode ketiga ini saya berharap kolaborasi dengan Pemkot bisa lebih diperkuat, termasuk melalui KKN mahasiswa untuk mendampingi masyarakat di Kampung Pancasila,” ungkap Eri.
Pemkot Surabaya juga tengah menyiapkan program Beasiswa Pemuda Tangguh yang ditujukan bagi mahasiswa di perguruan tinggi swasta, termasuk Untag. Dengan skema ini, diharapkan tidak ada lagi generasi muda Surabaya yang terhambat melanjutkan pendidikan karena kendala biaya. “Kami ingin memastikan anak-anak Surabaya tetap bisa kuliah, agar Indeks Pembangunan Manusia kota ini terus meningkat,” tambahnya.
Dengan kombinasi kepemimpinan berpengalaman dan kehadiran dua figur akademisi baru, Untag Surabaya optimistis mampu menjawab tantangan global sekaligus tetap teguh pada jati diri sebagai kampus perjuangan.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
