Dari Dunia Politik hingga Layar Televisi, Kisah Inspiratif Dr Sumiati yang Setia pada Dunia Akademik
Setelah menyelesaikan studi S1, tak disangka langkahnya justru berbelok ke dunia media. Tahun 1992, ia diterima bekerja di SCTV Surabaya, saat televisi swasta baru dua di Indonesia SCTV dan RCTI. Awalnya ia sempat kebingungan karena belum tahu akan ditempatkan di mana, namun kemudian lolos placement test dan masuk ke Departemen Programming yang menangani promosi program televisi.
Di sanalah Sumiati belajar banyak tentang dunia komunikasi. Ia menulis sinopsis film untuk koran dan menerima pelatihan langsung dari budayawan Arswendo Atmowiloto. “Tulisan pertama saya sederhana sekali. Tapi setelah dilatih Arswendo, saya belajar menulis dengan rasa. Dari situ saya tahu, menulis itu tentang menyentuh hati pembaca,” tuturnya.
Karya-karyanya kemudian dikenal provokatif dan mampu menarik minat penonton. Namun, masa keemasannya di dunia televisi harus terhenti saat Menteri Penerangan Harmoko di era Orde Baru mewajibkan semua siaran televisi swasta terpusat di Jakarta. SCTV Surabaya pun berhenti beroperasi penuh.
Di saat bersamaan, ibunya jatuh sakit, sementara sang ayah telah tiada. Sumiati akhirnya memutuskan kembali ke Gresik. Ia meninggalkan dunia media dan kembali ke akar hidupnya: pendidikan.
Tahun 1996 menjadi titik balik. Setelah menyelesaikan studi Magister Manajemen di Untag Surabaya, Sumiati resmi bergabung sebagai dosen. Dari ruang kelas, ia menemukan kembali makna perjuangan hidup: mencerdaskan generasi muda.
Kini, di posisinya sebagai Wakil Rektor III Untag Surabaya, Sumiati terus menularkan semangat yang sama kepada mahasiswanya. Ia percaya, pendidikan bukan sekadar gelar, tapi perjalanan untuk menemukan diri dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
