Di tengah sorotan publik, muncul pertanyaan soal anggaran pembangunan patung. Safi’i menegaskan bahwa proyek ini tidak menggunakan dana desa maupun anggaran pemerintah. Seluruh biaya pembuatan berasal dari dana pribadinya, dengan total sekitar Rp3,5 juta.
Rinciannya, sekitar Rp2 juta digunakan untuk biaya tenaga kerja, sementara Rp1,5 juta dialokasikan untuk material. Fakta ini membuat sebagian warganet melunak, bahkan banyak yang memberikan kritik membangun ketimbang hujatan.
Pemerintah desa pun menyikapi beragam masukan dengan terbuka. Safi’i menyebut pihaknya berencana melakukan penataan ulang dan penyempurnaan desain agar patung Macan Putih lebih mendekati konsep awal dan tampil lebih estetis.
Ikon Baru dan Harapan Ekonomi Desa
Terlepas dari kontroversi bentuknya, kehadiran patung Macan Putih membawa dampak nyata bagi desa. Kunjungan warga dari luar daerah mulai menggeliatkan aktivitas ekonomi lokal. Warung kopi, penjual makanan ringan, hingga jasa foto dadakan ikut merasakan manfaat dari ramainya pengunjung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ikon sederhana, jika dikemas dengan cerita yang kuat dan didukung media sosial, mampu menjadi pemantik wisata baru. Patung Macan Putih kini bukan hanya latar swafoto, tetapi juga simbol harapan bagi warga Balongjeruk untuk mengembangkan potensi desa wisata berbasis budaya.
Kisah viralnya Macan Putih Gemoy di Kediri menjadi cerminan bagaimana seni, legenda lokal, dan kekuatan media sosial dapat bertemu dan menciptakan dampak luas. Dari sebuah desa kecil, cerita tentang mimpi, kepercayaan, dan kreativitas lokal kini menjelma menjadi pembicaraan publik. Ke depan, dengan penataan yang lebih matang, Macan Putih Balongjeruk berpeluang menjadi ikon budaya yang membanggakan sekaligus sumber kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
