Hasto Tegaskan Peran PDIP sebagai Penyeimbang Demokrasi dalam Sistem Presidensial

Lukman Hakim
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto. Foto : Surabaya.iNews.id/Lukman Hakim

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa PDIP akan menjalankan peran sebagai kekuatan penyeimbang dalam pemerintahan.

Hal ini sejalan dengan karakter sistem presidensial yang dianut Indonesia. Menurutnya, sistem presidensial hanya akan bekerja efektif apabila ditopang oleh penyederhanaan partai politik di parlemen.

Hasto menjelaskan bahwa dalam sistem presidensial seperti di Amerika Serikat, efektivitas pemerintahan ditopang oleh sedikitnya jumlah partai yang memiliki kursi signifikan. "Sistem presidensial tidak akan efektif kalau partainya terlalu banyak. Di Amerika saja hanya dua partai besar yang memegang mayoritas di parlemen," ujarnya, Sabtu (17/1/2026).

Meski demikian, ia menegaskan kebebasan pembentukan partai politik tetap terjamin, namun syarat ambang batas parlemen (parliamentary threshold) maupun pengaturan fraksi diperlukan sebagai bagian dari penataan sistem politik nasional. “Penataan sistem politik harus diikuti dengan penegakan sistem hukum yang berkeadilan,” kata Hasto.

Hasto menekankan bahwa Indonesia bukan negara dengan sistem parlementer yang mengenal batas tegas antara ruling party dan opposition party. Karena itu, PDIP memposisikan diri bukan sebagai oposisi, melainkan penyeimbang.

“Baik yang berada di dalam pemerintahan maupun di luar, semuanya terikat pada Pancasila dan konstitusi. Hal-hal yang sesuai ideologi dan kepentingan rakyat, kita dukung. Yang berbeda, kita sampaikan opsi alternatif,” tegasnya.

Menurut Hasto, PDIP terus merumuskan berbagai alternatif kebijakan strategis. Antara lain, kedaulatan pangan sebagai basis ketahanan nasional. Konsep pertahanan geopolitik ala Bung Karno, yang berorientasi pada kekuatan laut dan udara sesuai karakter geografis Indonesia.

Visi Indonesia sebagai kekuatan besar dari Samudra Hindia menuju Pasifik, sebagaimana dicita-citakan Bung Karno. “Perbedaan-perbedaan konsep ini bisa dikomunikasikan lewat praktek di parlemen. Demokrasi perlu check and balances, opsi kebijakan, dan kritik,” jelasnya.

Hasto juga mengungkap pendekatan PDIP dalam merumuskan desain Pilkada yang berbiaya murah dan bebas politik uang. Menurutnya, seluruh langkah PDIP didukung riset internal.

Konsep tersebut mencakup gotong royong partai sehingga tidak hanya calon yang bekerja sendiri. Pengawasan ketat untuk memastikan tanpa mahar politik. Penguatan peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan penegakan hukum. “Ini satu konsep ideologis yang dijabarkan secara teknokratik,” tutur Hasto.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network