SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kebiasaan duduk terlalu lama, minim olahraga, dan pola hidup serba instan kini diam-diam menjadi “musuh” bagi kesehatan tulang dan sendi. Gaya hidup malas gerak atau mager tak lagi hanya menghantui kalangan lansia. Faktanya, masalah nyeri sendi hingga pengapuran mulai banyak dialami mereka yang masih berada di usia produktif.
Dokter Spesialis Ortopedi RS Premier Surabaya, dr. Faesal Abdarrab Maodah, Sp.OT, Subsp. P.L (K), mengungkapkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dan obesitas menjadi pemicu utama gangguan sendi yang bersifat kronis. Banyak pasien datang dengan keluhan nyeri lutut, pinggul, atau pergelangan, padahal usia mereka relatif muda.
“Sendi itu butuh gerak supaya tetap sehat. Kalau jarang dipakai, justru cepat rusak,” ujar dr. Faesal saat ditemui di RS Premier Surabaya.
Kurang Gerak, Sendi Kehilangan Nutrisi
Berbeda dengan jaringan tubuh lain, tulang rawan sendi tidak memiliki pembuluh darah. Satu-satunya cara mendapatkan nutrisi adalah melalui cairan sendi yang bergerak saat tubuh aktif. Ketika seseorang jarang bergerak, proses ini terhambat.
“Tanpa gerakan, tulang rawan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Akibatnya, sendi mengalami penuaan dini, degenerasi, dan memicu nyeri berkepanjangan,” jelasnya.
Tak hanya itu, otot dan ligamen yang jarang digunakan akan melemah. Kondisi ini membuat sendi kehilangan stabilitas alaminya. Risiko cedera pun meningkat, bahkan saat melakukan aktivitas ringan sekalipun.
“Orang yang jarang bergerak, ototnya mengecil. Sedikit terpeleset saja bisa berakibat cedera serius karena sendinya tidak stabil,” tambah dr. Faesal.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
