Meski demikian, ia tidak menampik bahwa pelaksanaan MBG di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari kesiapan dapur, distribusi makanan, hingga koordinasi antar pelaksana di satuan pendidikan.
“Ini program besar dan masih relatif baru. Jadi kalau ada kekurangan di sana-sini, itu wajar. Yang penting, pemerintah tidak menutup mata dan terus melakukan evaluasi,” ujarnya.
Salah satu langkah perbaikan yang diapresiasi dr. Dwi adalah penyesuaian kapasitas penerima manfaat di setiap dapur MBG. Jika sebelumnya satu dapur melayani hingga 3.500 sampai 4.000 anak, kini jumlahnya diturunkan menjadi sekitar 2.000 penerima.
“Dengan kapasitas yang lebih realistis, kualitas makanan dan distribusinya bisa lebih terjaga. Ini bukti pemerintah mau belajar dari kondisi di lapangan,” jelasnya.
Ke depan, dr. Dwi berharap pengawasan terhadap anggaran dan pelaksanaan MBG terus diperkuat agar program tersebut benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Kalau pengawasan konsisten dan evaluasi terus dilakukan, saya optimistis Program Makan Bergizi Gratis bisa menjadi fondasi penting untuk masa depan anak-anak Indonesia, terutama mereka yang paling membutuhkan,” pungkasnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
