SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Harapan memiliki buah hati kini tak lagi menjadi mimpi mahal. Program bayi tabung yang selama ini identik dengan biaya tinggi mulai terbuka bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, termasuk prajurit TNI AL dan kalangan pendidik. Terobosan ini dihadirkan RSPAL dr Ramelan Surabaya melalui pengembangan layanan fertilitas berbiaya lebih terjangkau.
Kebijakan tersebut diumumkan bertepatan dengan satu tahun beroperasinya Klinik Infertilitas Asha IVF Jaladri di lingkungan RSPAL dr Ramelan. Rumah sakit milik TNI AL ini berupaya menghadirkan akses layanan reproduksi yang lebih inklusif, tanpa mengurangi kualitas dan standar medis.
Kepala RSPAL dr Ramelan Surabaya, Laksamana Pertama TNI dr Imam Hidayat SpS FINA, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap kesejahteraan keluarga prajurit dan guru yang memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa.
“Program bayi tabung kami rancang agar lebih terjangkau. Bahkan disediakan skema cicilan dengan bunga nol persen, sehingga pasangan tidak perlu menunda program kehamilan hanya karena kendala biaya,” ujar dr Imam.
Dalam skema terbaru, biaya program bayi tabung untuk pasien umum dimulai dari Rp83 juta. Sementara itu, anggota TNI AL dan guru memperoleh tarif khusus sebesar Rp62 juta. Klinik juga membuka opsi pembayaran bertahap sesuai ketentuan yang berlaku untuk meringankan beban finansial pasien.
Minat masyarakat terhadap layanan ini terbilang tinggi. Sepanjang satu tahun pertama operasional, Klinik Asha IVF Jaladri mencatat lebih dari 500 pasangan menjalani konsultasi fertilitas. Dari jumlah tersebut, sekitar 160 pasangan memutuskan mengikuti program fertilisasi untuk mewujudkan kehamilan.
Direktur Utama Asha IVF Indonesia, dr Amang Surya Priyanto SpOG FMAS, mengingatkan bahwa waktu menjadi faktor penting dalam keberhasilan program bayi tabung. Menurutnya, kualitas cadangan sel telur perempuan akan menurun signifikan setelah usia 35 tahun.
“Usia sangat menentukan. Karena itu kami mendorong pasangan untuk tidak menunda terlalu lama. Skema cicilan disiapkan agar program bisa segera dimulai sebelum melewati usia reproduksi optimal,” jelas dr Amang.
Keberhasilan program ini dirasakan langsung oleh Ari Rohmawati (39) dan Rudi Hermanto (39), pasangan dosen asal Pringsewu, Lampung. Setelah menanti kehadiran anak selama lima tahun dan sempat menunda program karena studi doktoral, Ari kini tengah mengandung enam bulan berkat program IVF yang dijalaninya di Surabaya.
Klinik Asha IVF Jaladri sendiri merupakan hasil kolaborasi antara RSPAL dr Ramelan Surabaya dan jaringan Asha IVF Indonesia. Fasilitas ini dilengkapi laboratorium embriologi modern serta didukung tim dokter spesialis obstetri dan ginekologi berpengalaman. Layanan yang tersedia mencakup konsultasi infertilitas, inseminasi buatan, hingga teknik bayi tabung lanjutan.
Pihak klinik juga mengimbau pasangan suami istri yang telah menikah lebih dari satu tahun namun belum dikaruniai anak untuk segera menjalani pemeriksaan fertilitas secara bersama. Deteksi dini dinilai penting agar peluang keberhasilan program kehamilan tetap tinggi dan sesuai dengan usia reproduksi yang sehat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
