Selain kelangkaan armada, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik tersebut juga diyakini akan mendorong gairah eksplorasi migas, khususnya di Indonesia dan wilayah regional.
“Harga minyak naik otomatis memicu peningkatan kegiatan eksplorasi dan pengeboran. Inilah yang akan menjadi pendorong utama pendapatan ELPI ke depan," tambahnya.
Menangkap peluang dari meningkatnya aktivitas energi tersebut, ELPI tancap gas melakukan diversifikasi bisnis ke sektor Subsea dan EPCI (Engineering, Procurement, Construction, and Installation). Dari total belanja modal (Capex) Rp1,5 triliun yang dianggarkan tahun 2026, sebesar Rp1 triliun dialokasikan khusus untuk sektor ini.
"Kami alokasikan Rp1 triliun untuk Subsea dan EPCI. Investasi ini akan diserap mulai kuartal kedua (Q2) 2026 dan kami targetkan paling lambat kuartal keempat (Q4) sudah bisa memberikan dampak langsung pada peningkatan revenue," jelas Eka.
Meski sektor migas masih menjadi kontributor utama, ELPI mulai mempersiapkan diri untuk masa depan energi Indonesia. Eka menyebut bahwa tren pemasangan kincir angin lepas pantai (offshore wind farm) yang sudah masif di Eropa dan Taiwan akan segera masuk ke pasar domestik.
"Hanya masalah waktu kincir angin laut ini masuk ke Indonesia. Kami melihat ini sebagai peluang besar untuk diversifikasi di luar industri migas. Melalui kemampuan EPCI yang sedang kami bangun, ELPI siap menjadi bagian dari alternatif industri energi tersebut," pungkasnya.
Sementara itu, Corporate Secretary ELPI, Wawan Heri Purnomo optimistis menatap tahun buku 2026 dengan target pertumbuhan pendapatan yang signifikan.
"Tahun 2025 kita mencatatkan pendapatan di angka Rp1,01 triliun. Untuk tahun 2026, target kita setidaknya tumbuh 10% hingga 30%, atau berada di kisaran Rp1,1 triliun sampai Rp1,3 triliun," ujarnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
