SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Di sebuah ruang kelas di Universitas Wijaya Putra, suasana tak biasa terasa. Puluhan anak muda dari berbagai latar belakang duduk melingkar, berdiskusi serius, sesekali berdebat, lalu tertawa. Mereka bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi sedang belajar menjadi pemimpin masa depan.
Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari mahasiswa, siswa SMA dan SMK di Surabaya mengikuti kegiatan Pembinaan Kepemimpinan bagi Pemuda yang digelar selama dua hari, 23–24 April 2026. Program ini diinisiasi Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya dengan menggandeng Universitas Wijaya Putra sebagai tuan rumah.
Berbeda dari pelatihan biasa, kegiatan ini tidak hanya berisi teori. Para peserta langsung dihadapkan pada simulasi persoalan nyata yang sering terjadi di lingkungan kepemudaan, mulai dari mengelola organisasi hingga mempromosikan potensi pariwisata lokal. Dari sinilah, kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan mereka diasah.
Kepala Disbudporapar Kota Surabaya, Herry Purwadi, menegaskan bahwa program ini sengaja dirancang lintas jenjang pendidikan. Menurutnya, pertemuan antara pelajar dan mahasiswa menjadi ruang belajar yang lebih hidup.
“Anak-anak SMA bisa belajar dari pengalaman mahasiswa, sementara mahasiswa juga belajar memahami sudut pandang adik-adiknya. Di sinilah kepemimpinan itu tumbuh—dari interaksi dan kolaborasi,” ujarnya.
Sebanyak 60 pelajar dan mahasiswa di Surabaya mengikuti pembinaan kepemimpinan selama dua hari. Mereka ditempa melalui simulasi kasus nyata untuk menjadi pemimpin muda adaptif di era digital. Foto alup
Bagi peserta, pengalaman ini terasa berbeda. Calista, siswi SMAN 12 Surabaya, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang arti kepemimpinan. Ia terkesan dengan cara mahasiswa berbagi pengalaman organisasi secara terbuka.
“Saya jadi tahu bahwa pemimpin itu bukan hanya memberi perintah, tapi juga harus bisa mendengar dan memahami timnya,” kata Calista dengan antusias.
Hal serupa dirasakan Bayu Tri, mahasiswa Universitas Wijaya Putra. Ia menilai sesi simulasi menjadi bagian paling menantang sekaligus berkesan.
“Kami seperti dihadapkan pada situasi nyata. Harus cepat mengambil keputusan, tapi tetap mempertimbangkan dampaknya. Ini melatih kami berpikir lebih matang,” ungkapnya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
