SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Struktur penduduk di Jawa Timur (Jatim) terus mengalami perubahan seiring meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut (lansia).
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk usia produktif 15–64 tahun mencapai 69,28 persen atau meningkat dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang sebesar 68,34 persen.
Sementara itu, proporsi penduduk usia 0–14 tahun mengalami penurunan dari 24,59 persen pada 2010 menjadi 20,57 persen pada 2025. Di sisi lain, jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas justru meningkat dari 7,07 persen menjadi 10,15 persen.
Perubahan tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran struktur umur penduduk di Jatim. Kelompok usia muda semakin menyempit, sedangkan kelompok usia produktif dan lansia terus bertambah.
Berdasarkan komposisi usia tersebut, rasio ketergantungan penduduk Jatim pada 2025 tercatat sebesar 44,35. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 44 penduduk usia nonproduktif.
Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil SP2020 yang berada di angka 42,33. Meski demikian, rasio ketergantungan Jatim masih berada di bawah 50 sehingga dinilai masih berada dalam fase bonus demografi.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan perhatian terhadap kelompok lansia harus terus diperkuat melalui berbagai program yang mendukung kualitas hidup mereka.
Menurutnya, lansia merupakan bagian penting masyarakat yang tetap harus mendapatkan ruang untuk hidup sehat, produktif, dan bahagia.
“Lansia harus terus diberi ruang untuk berdaya karena pengalaman dan semangat mereka menjadi kekuatan penting dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026 di kawasan Pasar Bentoel, Malang, Jumat (29/5/2026).
Khofifah menilai usia lanjut tidak selalu identik dengan masa berhenti berkarya. Menurutnya, banyak lansia di Jatim yang tetap aktif bekerja dan menjalankan usaha kecil demi menjaga kemandirian ekonomi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
