SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kekeringan mulai berdampak terhadap lahan pertanian di Jawa Timur (Jatim). Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim mencatat 28,30 hektare lahan padi mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan sepanjang Juni hingga 10 Agustus 2026.
Secara kumulatif, luas lahan padi yang terdampak kekeringan mencapai 229,59 hektare. Lahan terdampak tersebut tersebar di sejumlah daerah berdasarkan pemantauan terhadap 38 kabupaten/kota di Jatim.
Kabupaten Tulungagung menjadi daerah dengan dampak paling berat. Sebanyak 20 hektare lahan padi di wilayah tersebut mengalami puso. Selanjutnya Lamongan dengan 5 hektare dan Magetan 3,20 hektare.
Tulungagung juga mencatat total dampak kekeringan terbesar, yakni 88,25 hektare. Angka tersebut terdiri atas 68,25 hektare lahan terdampak dan 20 hektare lahan yang mengalami puso.
Bojonegoro berada di posisi berikutnya dengan luas lahan terdampak mencapai 70,50 hektare. Namun, hingga data diperbarui, belum ada lahan puso yang tercatat di daerah tersebut.
Daerah lain yang terdampak antara lain Trenggalek 30,75 hektare, Gresik 19,20 hektare, Jombang 15 hektare, Lamongan 16 hektare, Blitar 4 hektare, Sidoarjo 2 hektare, dan Lumajang 2 hektare.
Jika dilihat berdasarkan periode, dampak kekeringan paling luas terjadi pada Juli 2026. Saat itu, luas lahan padi terdampak mencapai 92,73 hektare, dengan 8,30 hektare di antaranya mengalami puso.
Pada Juni, luas lahan terdampak mencapai 50,19 hektare. Dari jumlah tersebut, 20 hektare mengalami puso. Sementara pada Agustus hingga 10 Agustus 2026, tercatat tambahan lahan terdampak seluas 25 hektare. Belum ada tambahan lahan yang dilaporkan mengalami puso pada periode tersebut.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengatakan pemerintah tidak ingin menunggu hingga kekeringan menyebabkan tanaman mati dan gagal panen semakin meluas.
“Jangan menunggu betul-betul sudah kering. Kalau yang kemarin didatangi memang tanahnya sudah retak, kalau enggak dikasih air lagi sudah tinggal nunggu waktu tanaman mati,” ujar Emil, Kamis (13/8/2026).
Emil mengatakan kondisi tersebut mendorong Pemprov Jatim mempercepat pemetaan lahan pertanian yang terdampak maupun berpotensi terdampak kekeringan.
Seluruh kepala dinas pertanian kabupaten/kota diminta melakukan pendataan secara rinci. Pemetaan mencakup luas dan lokasi lahan, kondisi sumber air, serta potensi penyediaan air untuk menyelamatkan tanaman.
Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi sumber air di masing-masing wilayah. Lahan yang masih memiliki sumber air permukaan akan mendapat intervensi melalui optimalisasi embung dan sumber air lainnya menggunakan pompa. “Kalau ada air permukaan seperti kemarin di Gresik, di Benjeng, ada embung yang masih ada air, dipompa,” kata Emil.
Sementara wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan akan dikaji untuk pembangunan sumur bor. Pemprov Jatim juga akan menggunakan teknologi geolistrik untuk memetakan potensi sumber air bawah tanah.
Hasil pemetaan tersebut nantinya akan dicocokkan dengan data cekungan air dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan BBWS Brantas. Langkah tersebut diperlukan agar pembangunan sumur bor tepat sasaran dan benar-benar berada di wilayah yang memiliki potensi sumber air.
Emil menyebut Bojonegoro, Lamongan, Tulungagung, dan Trenggalek menjadi sejumlah wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kekeringan.
Namun, potensi lahan terdampak di masing-masing daerah masih perlu diverifikasi melalui pendataan pemerintah kabupaten/kota.
Di sisi lain, pemerintah juga mengandalkan kemampuan adaptasi petani. Emil mengatakan sebagian petani Jatim telah menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Petani-petani Jatim ini kan selama ini tangguh luar biasa, mereka sudah beradaptasi. Ada jenis bibit yang memang kalau di kering itu bisa lebih tahan, meskipun mungkin hasilnya tidak seoptimal kalau hujan melimpah,” jelasnya.
Berdasarkan data BMKG, mayoritas wilayah Jatim memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air irigasi, cekaman air pada tanaman, hingga penurunan produktivitas pertanian.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
