Viral! Film Pendek Angkat Kisah Kekerasan Seksual di Kampus, Ceritanya Bikin Mahasiswa Kaget

Arif Ardliyanto
Film pendek Untag Surabaya “Kita Yang Menulis Cerita” mengangkat kisah nyata kekerasan seksual di kampus dan dilema mahasiswa mempertahankan karya. Foto iNewsSurabaya.id/tangkap layar

SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Sebuah film pendek produksi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengangkat persoalan yang selama ini kerap menjadi perhatian di lingkungan perguruan tinggi, yakni kekerasan seksual.

Film berjudul “Kita Yang Menulis Cerita” tersebut dirilis pada 14 Agustus 2026. Ceritanya terinspirasi dari fenomena nyata yang terjadi di lingkungan kampus di Indonesia.

Alih-alih hanya menampilkan kisah tentang kehidupan mahasiswa, film ini membawa penonton masuk ke dalam dilema ketika sebuah pencapaian bersama harus berhadapan dengan persoalan kekerasan seksual.


Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. dan Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, M.Kom., Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, menyambut positif produksi film pendek hasil karya mahasiswa. Foto iNewsSurabaya.id

Cerita bermula dari sekelompok mahasiswa yang berhasil mewujudkan impian menerbitkan buku antologi. Kebahagiaan itu berubah menjadi persoalan ketika karya mereka mendapat penolakan dari lingkungan sekitar.

Sekretariat kelompok mahasiswa tersebut mendadak dipenuhi aksi protes. Lakban peringatan hingga coretan bernada boikot menghiasi ruangan mereka.

Pemicu aksi tersebut bukan isi buku, melainkan keterlibatan salah satu penulis yang diketahui melakukan pelecehan seksual.

Situasi itu kemudian membuat para mahasiswa terpecah dalam menentukan sikap.

Mereka harus memilih antara mempertahankan karya yang dibangun bersama atau mengambil keputusan tegas terhadap persoalan yang menyeret salah satu anggota kelompok.

Sebagian mahasiswa berusaha melihat karya dan tindakan pribadi pelaku sebagai dua hal berbeda. Mereka merasa anggota lain tidak mengetahui perbuatan tersebut dan justru ikut menjadi pihak yang terdampak.

Lea Mulai Mempertanyakan Sikap Kelompok

Konflik semakin kuat melalui karakter Lea. Pada awalnya, Lea merasa kecewa karena karya yang diperjuangkan bersama harus ikut terkena dampak akibat tindakan satu orang.

Namun, perlahan muncul pertanyaan yang lebih besar.

Apakah sebuah karya tetap harus dipertahankan ketika di balik proses pembuatannya terdapat persoalan kekerasan seksual?

Pertanyaan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan cerita.

Para mahasiswa tidak lagi hanya memperdebatkan nasib buku yang telah mereka terbitkan. Mereka mulai berhadapan dengan tanggung jawab sebagai bagian dari lingkungan kampus.

Pada akhirnya, mereka menyadari bahwa persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan sekadar menghapus nama orang yang terlibat dari buku.

Buku Antologi Akhirnya Dihancurkan

Keputusan mengejutkan kemudian diambil. Buku yang telah mereka cetak diputuskan untuk dihancurkan.

Dalam salah satu adegan, tumpukan buku dibawa keluar ruangan. Buku-buku tersebut kemudian disobek dan dilempar dari lantai atas gedung kampus.

Adegan itu menjadi simbol penting dalam film. Pesannya, mempertahankan sebuah karya bukan selalu menjadi pilihan ketika karya tersebut bersinggungan dengan persoalan yang menyangkut kekerasan seksual.

Konflik dalam “Kita Yang Menulis Cerita” juga menggambarkan benturan antara kepentingan kelompok, pencapaian pribadi, solidaritas, dan keberpihakan terhadap korban.

Film tersebut mengajak penonton melihat bahwa sikap terhadap kekerasan seksual tidak berhenti pada mengetahui adanya peristiwa. Ada keberanian untuk menentukan posisi ketika persoalan tersebut terjadi di lingkungan sekitar.

Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, M.Kom., Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA, mengatakan cerita dalam film tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di lingkungan kampus di Indonesia.

“Iya, ini kisah nyata. Kita menangkap fenomena yang ada dan merangkum menjadi sebuah film,” katanya.

Menurutnya, fenomena yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi kemudian dirangkum menjadi cerita agar pesan yang disampaikan dapat diterima melalui pendekatan film.

Sementara itu, Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. menyambut positif produksi film tersebut.

Ia menilai karya mahasiswa maupun sivitas akademika melalui medium film merupakan sebuah langkah maju. Ke depan, Untag Surabaya disebut akan memberikan wadah khusus agar produksi film dapat dikembangkan secara lebih profesional.

“Saya sangat mendukung produksi film ini. Saya berharap, Untag semakin produktif dalam mengembangkan film seperti ini,” ujarnya.

Bukan Sekadar Cerita tentang Mahasiswa

“Kita Yang Menulis Cerita” pada akhirnya tidak hanya bercerita tentang mahasiswa yang membuat buku. Film tersebut menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana seseorang menentukan sikap ketika keberhasilan bersama berhadapan dengan persoalan serius di lingkungan sendiri.

Judul film itu pun menjadi bagian dari refleksi cerita. Setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan sikap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk ketika pilihan tersebut berisiko mengorbankan karya, kepentingan, maupun pencapaian yang sudah diperjuangkan bersama.

Dengan mengangkat isu kekerasan seksual melalui konflik yang dekat dengan kehidupan mahasiswa, film ini mencoba membuka ruang percakapan mengenai pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan tidak memberikan ruang bagi kekerasan seksual.

Penulis: Nikmatul Karomah, Mahasiswa Magang Unesa Surabaya

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network