Pasar Properti Rp1-2 Miliar Melambat, Banyak Konsumen Terbentur Pinjaman Online

Lukman Hakim
Pengembang properti, Pakuwon Group, menghadirkan event Pakuwon Indah Anniversary, yang berlangsung selama 4 hari. Mulai 27 hingga 30 Agustus 2026 di Fashion Atrium Pakuwon Mall Surabaya. (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Pasar properti segmen menengah dengan harga Rp1 miliar hingga Rp2 miliar mulai menghadapi tantangan. Salah satu kendalanya adalah kemampuan konsumen memenuhi persyaratan kredit perbankan.

General Manager Marketing Pakuwon Group, Liliani Harsono, mengatakan transaksi properti saat ini justru lebih banyak terjadi pada segmen premium dengan harga di atas Rp5 miliar.

Sementara itu, pasar properti di kisaran Rp1 miliar-Rp2 miliar cenderung melambat. Menurut Liliani, minat konsumen masih ada. Namun, proses pengajuan kredit menjadi salah satu hambatan utama.

“Kalau yang sudah Rp1 miliar, Rp2 miliar itu kita slow. Market-nya sebenarnya ada dan mereka menggunakan fasilitas kredit bank. Tetapi saat proses analisis kredit, kondisinya banyak yang tidak bagus,” ujar Liliani, Kamis (27/8/2026).

Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang ditemukan adalah banyak calon konsumen memiliki sejumlah kewajiban kredit lain. Mulai dari pinjaman online, kredit kendaraan, hingga layanan paylater.

Kondisi tersebut membuat kemampuan pembayaran calon debitur dinilai lebih terbatas oleh perbankan. “Beberapa yang kembali ke kita itu punya pinjaman online, kredit mobil, kemudian kredit paylater. Itu cukup banyak,” katanya.

Menurut Liliani, kondisi tersebut turut memengaruhi keputusan bank dalam memberikan persetujuan kredit. Terlebih, sebagian konsumen menginginkan uang muka rendah dengan tenor panjang.

“Dengan banyaknya kredit, dia menambah kredit lagi, bank merasa dia tidak mampu bayar,” jelasnya.

Liliani memperkirakan sekitar 50 persen pengajuan kredit dari segmen tersebut mengalami penolakan. Sebagian konsumen yang pengajuan kreditnya tidak disetujui kemudian mencoba menggunakan skema cicilan langsung kepada pengembang atau in-house.

Namun, skema tersebut juga memiliki keterbatasan. Konsumen umumnya hanya dapat memperoleh tenor sekitar enam hingga 12 bulan.

“Dari 50 persen itu, mungkin mereka masih bisa akhirnya meminta ke kita in-house. Tetapi cicil ke kita juga tidak bisa panjang. Kalau kemampuan bayarnya selama itu, berarti kalau cicil enam sampai 12 bulan mereka juga tidak bisa ambil,” ujarnya.

Kondisi berbeda terlihat pada segmen properti dengan harga Rp4 miliar hingga Rp10 miliar. Di segmen tersebut cenderung memiliki kemampuan finansial lebih kuat. Sebagian memilih membayar secara tunai atau memberikan uang muka lebih besar.

“Kalau yang sudah Rp4 miliar, Rp5 miliar sampai Rp10 miliar, mereka cenderung bayar cash atau DP dibesarkan. Biasanya minimal 30 persen,” katanya.

Menurut Liliani, pasar properti premium masih memiliki permintaan. Transaksi dengan nilai di atas Rp5 miliar bahkan disebut lebih banyak dibandingkan segmen Rp1 miliar-Rp2 miliar.

Konsumen pada segmen Rp4 miliar-Rp5 miliar umumnya merupakan pengguna akhir atau end user, bukan investor. “Pasti end user. Kalau sudah Rp4 miliar-Rp5 miliar itu biasanya rata-rata rumah kedua,” ujarnya.

Properti tersebut biasanya dibeli untuk kebutuhan keluarga. Misalnya, untuk anak atau bahkan cucu. Selain pembelian rumah kedua, terdapat pula konsumen lama yang melakukan peningkatan hunian atau upgrade.

Liliani mengatakan, sebagian pelanggan loyal Pakuwon Group yang sebelumnya membeli rumah dengan harga sekitar Rp2 miliar kini memilih hunian yang lebih besar.

“Kalau yang dulu misalnya beli rumah Rp2 miliar, lebar enam. Sekarang mereka beli lebar delapan atau lebar 10, jadi mereka upgrade,” katanya.

Untuk menjaga pasar segmen menengah, Pakuwon Group juga menggandeng perbankan dalam menyediakan skema pembiayaan yang lebih menarik. Salah satunya melalui kerja sama dengan Bank Mandiri dengan program bunga tetap atau fixed 1,8 persen selama tiga tahun.

Menurut Liliani, skema tersebut diharapkan memberikan kepastian cicilan kepada konsumen sekaligus memberikan waktu untuk melihat perkembangan kondisi perekonomian.

“Pertimbangannya, setelah tiga tahun orang kredit biasanya takut bunganya tiba-tiba melonjak. Tetapi tiga tahun ini mereka fixed, sambil wait and see kondisi perekonomian,” ujarnya.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network