Produsen Baja Ringan Tambah Pabrik di Mojokerto, Kapasitas Diproyeksi Hampir 1 Juta Ton

Lukman Hakim
Direktur PT Kepuh Kencana Arum, Henry Alvino. (Foto : Lukman Hakim).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – PT Kepuh Kencana Arum, produsen baja ringan dan building component, menambah fasilitas produksi baru di Mojokerto yang diproyeksikan meningkatkan kapasitas hingga 30–40 persen.

Direktur PT Kepuh Kencana Arum, Henry Alvino, mengatakan fasilitas baru tersebut telah mulai beroperasi pada Agustus 2026. Penambahan kapasitas dilakukan untuk menghadapi kebutuhan pasar yang dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan.

“Sekarang kita sudah menambah pabrik baru di Mojokerto. Sudah mulai operasional bulan ini,” kata Henry dalam perayaan 35 tahun Kencana, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, fasilitas baru tersebut nantinya tidak hanya difokuskan pada satu jenis produk. Perusahaan berencana mengembangkan kapasitas di berbagai lini produk, termasuk produk baja ringan dan komponen bangunan.

Henry memperkirakan tambahan fasilitas tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30–40 persen. Saat ini, kapasitas produksi perusahaan berada di kisaran 600.000 hingga 700.000 ton per tahun.

“Kalau yang baru itu bisa menambah kapasitas sekitar 30 sampai 40 persen. Sekarang kapasitas kita sekitar 600 sampai 700 ribu ton. Kalau bertambah 30 persen, ke depannya bisa mendekati 1 juta ton,” jelasnya.

Penambahan kapasitas tersebut untuk sementara diarahkan memenuhi pasar domestik. Henry mengatakan perusahaan masih fokus memperkuat pasar lokal sebelum mempertimbangkan peningkatan ekspor. “Kita masih fokus ke lokal untuk sementara ini,” ujarnya.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, Kencana juga menyiapkan sejumlah produk baru untuk memperluas portofolio, terutama pada segmen produk arsitektural.

Henry mengatakan inovasi tersebut mencakup produk untuk para-para, ceiling, hingga produk khusus dinding. Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah dinding dengan sistem ventilasi.

Menurut Henry, pengembangan produk tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung penerapan konsep green building. Produk-produk baru akan diarahkan terutama untuk kebutuhan eksterior dan fasad bangunan. “Go green juga menjadi salah satu program Kencana Group ke depan,” ujarnya.

Di tengah tantangan ekonomi, Henry menilai kondisi industri baja ringan secara umum masih relatif stabil. Bahkan, segmen proyek menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia memperkirakan pertumbuhan pasar proyek mencapai sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu. Namun, pertumbuhan tersebut belum merata di seluruh wilayah karena karakteristik proyek yang berbeda-beda.

“Secara umum cukup stabil. Untuk proyek kelihatannya menunjukkan kinerja lebih baik dibanding tahun lalu. Peningkatannya kurang lebih bisa 50 persen,” kata Henry.

Meski demikian, dari sisi penjualan, pasar ritel masih memiliki porsi lebih besar dibandingkan proyek. Henry menjelaskan, proyek cenderung lebih fluktuatif, sedangkan pasar ritel relatif lebih stabil.

“Kalau project nilainya besar, tetapi sangat fluktuatif. Retail lebih stabil, sedangkan project lebih dinamis. Jadi porsinya tidak bisa langsung disampaikan dalam angka yang eksak,” jelasnya.

Sementara itu, produk dekoratif yang dikembangkan perusahaan mulai menunjukkan pertumbuhan. Saat ini, kontribusinya diperkirakan berada di kisaran 20–30 persen dari volume penjualan.

“Untuk dekoratif saat ini sekitar 20 sampai 30 persen. Tapi tumbuh dan saya yakin ke depannya akan lebih tinggi karena masyarakat sekarang juga semakin concern terhadap dekoratif,” ujarnya.

Henry menilai tantangan utama industri bahan bangunan adalah menjaga konsistensi kualitas di tengah persaingan dan dinamika pasar.

Ia menilai penerapan regulasi seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) penting untuk menciptakan industri baja ringan yang semakin kuat dan terintegrasi.

“Kita membutuhkan konsistensi. Kalau tidak konsisten, kualitas akan turun dan tentunya memengaruhi jangka panjang. Karena itu saya sangat setuju dengan regulasi pemerintah seperti SNI dan TKDN,” tegasnya.

Henry menambahkan, kebutuhan baja ringan di Indonesia masih relatif kecil dibandingkan potensi pasar yang ada. Kondisi tersebut membuka peluang bagi industri untuk terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan konstruksi dan bangunan.

“Kalau melihat market, kebutuhan baja saat ini di Indonesia masih relatif kecil. Jadi saya rasa ke depan masih ada potensi untuk meningkat lebih banyak lagi,” pungkas Henry.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network