Ia berharap warga binaan dapat memanfaatkan keterampilan yang telah dipelajari dan mengembangkannya secara berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sesi pelatihan saja, harus benar-benar dimanfaatkan dan berkelanjutan warga binaan sehingga memberikan nilai manfaat yang nyata,” imbuhnya.
IWAPI Melihat Potensi Ekonomi
DPC IWAPI Kabupaten Banyuwangi yang terlibat dalam pelatihan tersebut melihat adanya potensi besar yang bisa dikembangkan dari keterampilan kerajinan tangan.
Perwakilan DPC IWAPI Banyuwangi, Fitriah Wulandari, mengatakan warga binaan perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka menjadi sebuah karya yang mempunyai nilai jual.
“Seni meronce tas merupakan salah satu kerajinan yang sangat potensial dan dapat dikerjakan secara fleksibel di sela-sela waktu mereka menjalani masa pidana,” ungkap Fitri.
Menurutnya, keterampilan seperti meronce dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas produktif karena proses pembuatannya bisa dilakukan secara bertahap. Hasil karya yang dihasilkan juga dapat terus dikembangkan dengan kreativitas dan inovasi.
Kolaborasi antara Lapas Banyuwangi dan DPC IWAPI ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Program pemberdayaan tersebut menjadi salah satu upaya untuk membuka ruang bagi warga binaan agar terus menghasilkan karya selama menjalani masa pembinaan.
Lebih dari sekadar menghasilkan kerajinan, pembekalan keterampilan ini diharapkan mampu membangun rasa percaya diri dan kemandirian warga binaan perempuan.
Dengan demikian, ketika masa pidana berakhir, mereka tidak hanya membawa pengalaman selama menjalani pembinaan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan sebagai bekal untuk kembali beraktivitas di tengah masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
