SIDOARJO, iNewsSurabaya.id – Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Hafiz tetap menyimpan mimpi besar. Anak yatim asal Sidoarjo ini bercita-cita menjadi polisi agar kelak bisa membantu, melindungi, dan mengayomi masyarakat.
Mimpi itu kembali tumbuh saat Hafiz mengikuti kegiatan berbagi yang digelar SD Mumtaz. Bersama 223 anak yatim lainnya, ia mendapat kesempatan menikmati hiburan, motivasi, sekaligus santunan.
Wajah Hafiz tampak ceria ketika menyaksikan aksi badut dan sulap. Tak hanya tertawa melihat berbagai atraksi, ia juga antusias ketika diajari sejumlah trik sulap.
Bagi Hafiz, momen tersebut bukan sekadar hiburan. Di tengah suasana penuh kegembiraan, ia mendapatkan perhatian dan semangat untuk terus belajar serta mengejar cita-citanya.
Ia ingin menjadi polisi bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Hafiz berharap suatu hari bisa menjadi sosok yang mampu membantu dan mengayomi orang lain.
Hafiz merupakan satu dari 224 anak yatim yang hadir dalam kegiatan berbagi SD Mumtaz. Mereka berasal dari 22 panti asuhan di Surabaya dan Sidoarjo.
Kegiatan tersebut dikemas dengan suasana penuh keceriaan. Selain menerima santunan, anak-anak diajak menikmati aksi sulap dan badut yang membuat mereka tertawa. Acara kemudian dilanjutkan dengan motivasi dan tausiah dari ustaz. Anak-anak diajak tetap semangat belajar, rajin berdoa, serta mendoakan orang tua mereka yang telah meninggal dunia.
Humas SD Mumtaz Heni Dwi Utami mengatakan kegiatan berbagi tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekolah setelah pagu penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026/2027 terpenuhi sebanyak 224 siswa.
“Ini merupakan bentuk rasa syukur SD Mumtaz karena pagu kita di tahun 2026-2027 sudah terpenuhi sebanyak 224 siswa. Harapannya, kegiatan ini selain menjadi ungkapan rasa syukur juga menjadi doa dari anak-anak yatim maupun pihak panti yang hadir,” ujar Heni, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, sebanyak 22 panti asuhan diundang dalam kegiatan tersebut. Sekolah berharap doa dari anak-anak yatim dapat membawa keberkahan sekaligus menjadi penyemangat bagi SD Mumtaz untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Semoga SD Mumtaz ke depannya bisa terus bermanfaat, lebih jaya, dan lebih besar lagi dari yang sekarang,” katanya.
Heni menjelaskan, kegiatan tersebut secara khusus menyasar anak-anak yatim sebagai bentuk kepedulian dan ajakan untuk berbagi kasih. Donasi dikumpulkan dari warga sekolah, baik wali murid maupun guru.
“Karena memang sasarannya anak yatim. Kami menggali donasi dari warga sekolah, bukan hanya dari wali murid, tetapi juga dari guru-guru. Ini bentuk kepedulian, berbagi kasih, menebar senyum, dan mengajak anak-anak yatim untuk bergembira,” tuturnya.
Total donasi yang terkumpul mencapai Rp11.675.314 dari 31 donatur. Selain santunan, anak-anak juga memperoleh motivasi dan hadiah sebagai bentuk apresiasi.
Bagi 224 anak yatim yang hadir, kegiatan tersebut meninggalkan pengalaman yang lebih dari sekadar menerima bantuan. Mereka mendapat ruang untuk bergembira, perhatian, dan dorongan untuk berani memiliki cita-cita.
Di antara ratusan anak itu, Hafiz membawa pulang sebuah mimpi sederhana namun penuh makna: menjadi polisi yang kelak dapat membantu dan mengayomi masyarakat.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
