Jangan Sepelekan Rasa Ingin Tahu Anak, Ternyata Bisa Membentuk Cara Berpikir Sejak Dini

Hendro Djatmiko
Rasa ingin tahu anak menjadi bagian penting dalam proses belajar. Eksplorasi melalui bermain dan pengalaman langsung dinilai membantu membangun pola pikir sejak dini. Foto iNewsSurabaya.id/hendro

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Ketika anak bertanya, menyentuh benda, mengamati sesuatu atau mencoba aktivitas yang belum pernah dilakukan, sebenarnya ada proses belajar yang sedang berlangsung. Rasa ingin tahu menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengenali lingkungan sekaligus membangun cara berpikir.

Karena itu, proses belajar pada usia dini tidak selalu harus berlangsung di depan buku atau melalui hafalan. Kesempatan untuk mencoba, mengamati dan menemukan sesuatu secara langsung juga menjadi bagian penting dalam perkembangan anak.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pendekatan dalam kegiatan Open House bertema “Little Explorers” yang digelar Elyon Christian School untuk jenjang Preschool dan Primary pada Agustus 2026.

Kepala Sekolah SD Kristen Elyon East Campus, Luciana Kho, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar anak tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar secara langsung.

“Setiap anak adalah penjelajah kecil yang penuh rasa ingin tahu. Mereka memiliki dorongan alami untuk mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Semangat inilah yang kami coba hadirkan melalui berbagai aktivitas dalam Open House,” ujar Luciana.

Dalam kegiatan itu, anak-anak diperkenalkan pada sejumlah aktivitas eksploratif yang mencakup Science, Mandarin, English, hingga pembelajaran mengenai Penciptaan berdasarkan Alkitab.

Menurut Luciana, usia dini hingga sekolah dasar merupakan fase ketika anak mulai mengenali lingkungan secara lebih luas. Pada periode tersebut, pengalaman yang mereka peroleh dapat membantu membentuk pola pikir dan kemampuan dalam menghadapi persoalan.

Eksplorasi, kata dia, memberikan kesempatan kepada anak untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membangun pemahaman berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami sendiri.

“Melalui eksplorasi, anak memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan rasa ingin tahunya secara alami. Karena itu, lingkungan belajar perlu mampu memfasilitasi rasa ingin tahu tersebut agar berkembang secara optimal,” jelasnya.

Eksplorasi pada anak usia dini sebenarnya dapat dimulai dari aktivitas yang sederhana. Benda-benda yang ditemui sehari-hari pun bisa menjadi media untuk mengenalkan berbagai konsep kepada anak.

Hal itu terlihat dalam aktivitas “Little Explorers”. Anak-anak diajak mengikuti kegiatan sensori, salah satunya berjalan di atas sensory mats dan berinteraksi dengan berbagai material.

Mereka juga dikenalkan dengan benda seperti batu, sayuran dan sejumlah objek lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui aktivitas tersebut, anak dapat mengenali perbedaan tekstur, bentuk dan karakteristik benda dengan menggunakan indera. Pengalaman langsung semacam ini juga memberi kesempatan bagi anak untuk mengamati, membandingkan dan menghubungkan apa yang dialami dengan pengetahuan baru.

Kepala Sekolah Preschool Elyon Christian School West Campus, Evy Lindayana, mengatakan guru memiliki peran penting dalam memastikan aktivitas yang diberikan tetap sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan anak.

“Dengan demikian, anak dapat belajar melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus terus mengembangkan kemampuan berpikirnya,” kata Evy.

Pendekatan pembelajaran melalui bermain dan eksplorasi juga diterapkan dalam Cambridge Early Years. Dalam pendekatan tersebut, aktivitas bermain dapat menjadi bagian dari proses anak mengembangkan kemampuan berpikir.

Anak diberi kesempatan untuk mencoba berbagai kemungkinan, mengamati hasilnya dan menemukan pemahaman melalui pengalaman.

Sementara itu, pada jenjang Cambridge Primary, siswa didorong untuk lebih aktif dalam bertanya dan mengeksplorasi. Kemampuan problem solving juga menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Dengan pola tersebut, proses pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Perkembangan anak juga mencakup kemampuan berpikir, pembentukan karakter, kreativitas hingga kebugaran fisik.

Elyon mengintegrasikan sejumlah aspek tersebut melalui nilai Christ-centredness, Character, Competence, Creativity, dan Corpus Fitness.

Pendekatan itu menempatkan pengalaman belajar sebagai bagian dari proses perkembangan anak secara menyeluruh. Anak tetap mendapatkan ruang untuk bertanya, mencoba dan menemukan sesuatu dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Luciana menilai eksplorasi pada akhirnya bukan sekadar kegiatan untuk memperkenalkan hal baru. Ada kebiasaan belajar yang ingin dibangun melalui proses tersebut.

“Pada akhirnya, eksplorasi bukan hanya tentang menemukan hal-hal baru, tetapi juga tentang memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, mencoba, berpikir, dan bertumbuh,” ungkapnya.

Rangkaian Open House “Little Explorers” telah selesai digelar. Elyon Christian School masih membuka kesempatan bagi keluarga yang ingin mengenal proses pembelajaran melalui kegiatan trial class untuk anak usia 15 bulan hingga 4 tahun.

 

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network