Limbah Plastik Disulap Jadi Instalasi Seni, Angkat Kritik Eksploitasi Alam

Andika
Lebih dari 500 karya seni hadir di Surabaya, angkat isu lingkungan. (Foto : Andika).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Keterbatasan ruang bagi seniman untuk menampilkan karya mendorong hadirnya ArtSUB di Surabaya. Pameran ini menghadirkan lebih dari 500 karya dari sekitar 150 seniman dengan beragam latar belakang.

ArtSUB menjadi ruang bagi seniman untuk memperkenalkan karya sekaligus menyampaikan gagasan kepada masyarakat. Kehadirannya dinilai penting karena Surabaya memiliki sejumlah perguruan tinggi dengan jurusan seni, tetapi ruang pamer bagi mahasiswa dan seniman lokal masih terbatas.

Asmudjo Jirianto berharap ArtSUB dapat menjadi wadah bagi seniman lokal, khususnya Surabaya, untuk berbagi cerita melalui karya.

“Dengan adanya ArtSUB, semoga ini menjadi wadah bagi para seniman lokal, khususnya Surabaya, untuk berbagi cerita lewat karya seni yang mereka sajikan,” ujar Asmudjo, Sabtu (19/9/2026].

Salah satu karya yang menarik perhatian berada di pintu masuk pameran. Instalasi bertema Cakra Manggilingan itu merupakan karya arsitek Andy Rahman.

Karya tersebut mengangkat filosofi Jawa tentang kehidupan yang terus berputar. Ada siklus naik dan turun dalam perjalanan manusia.

Andy kemudian menerjemahkan filosofi tersebut ke dalam konteks arsitektur dan lingkungan. Siklus kehidupan dimaknai sebagai kemampuan bumi untuk memperbaiki dan memulihkan diri.

Namun, kemampuan itu memiliki batas. Eksploitasi alam secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan lingkungan.

Instalasi tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap praktik arsitektur dan perilaku manusia yang kurang memperhatikan lingkungan. Bentuk lingkaran pada karya dibuat dengan celah terbuka.

Celah itu menjadi simbol keserakahan manusia. Eksploitasi alam yang berlebihan dinilai dapat merusak keseimbangan bumi dan mengancam keberlanjutan lingkungan bagi generasi berikutnya.

Pesan tersebut juga terlihat dari material yang digunakan. Instalasi berwarna terakota yang merepresentasikan akar arsitektur Jawa Timur, khususnya penggunaan bata.

Namun, Andy tidak menggunakan bata konvensional. Ia memanfaatkan limbah plastik dan PVC yang diolah dan diberi warna terakota.

Material tersebut menjadi simbol pertemuan antara akar arsitektur Jawa Timur dan upaya mencari material alternatif. Limbah plastik dan PVC sekaligus mengangkat persoalan lingkungan dan gagasan tentang masa depan material bangunan.

Pembuatan karya berlangsung sekitar tiga bulan, mulai dari pengembangan konsep hingga eksekusi. Pengerjaan fisiknya memakan waktu sekitar satu bulan.

Andy mengatakan karya tersebut sejak awal dirancang sebagai instalasi untuk merespons tema kuratorial ArtSUB. Karya itu tidak semata ditujukan untuk diperjualbelikan, tetapi menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan kritik tentang arsitektur serta lingkungan.

Meski demikian, Andy tetap terbuka jika ada pihak yang tertarik membeli dan memasang karya tersebut dalam sebuah proyek.

Di sisi lain, ArtSUB dinilai dapat memperkuat ekosistem seni di Surabaya. Pameran ini tidak hanya memberi ruang bagi seniman, tetapi juga mendekatkan karya seni kepada masyarakat.

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network