SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Perjuangan mendapatkan keturunan tidak selalu mudah bagi setiap pasangan. Selain faktor medis, program kehamilan juga berkaitan dengan kesiapan finansial, kondisi emosional, dan dukungan keluarga.
Untuk membantu pasangan memahami pilihan yang sesuai, ASA IVF Indonesia menggelar Hope Festival di Ballroom Lantai 3 Vasa Hotel Surabaya, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan yang menjadi puncak perayaan ulang tahun keempat ASA IVF Indonesia ini diikuti sekitar 400 pasangan yang telah melalui proses seleksi.
Dari lebih dari 2.000 pasangan di berbagai wilayah Indonesia yang menyatakan minat untuk hadir, peserta dipilih berdasarkan kebutuhan dan potensi untuk segera mendapatkan pendampingan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi ASA IVF Indonesia, Dr. dr. Amang Surya Priyanto, Sp.OG, F-MAS, mengatakan Hope Festival dirancang sebagai ruang edukasi, konsultasi, dan diskusi bagi pasangan yang menghadapi kendala dalam program kehamilan.
Melalui kegiatan ini, pasangan diharapkan memperoleh pemahaman lebih jelas mengenai kondisi kesuburan, peluang keberhasilan, pilihan penanganan, hingga strategi pembiayaan program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
“Di Hope Festival ini, semoga ASA IVF Indonesia bisa menjadi tempat untuk belajar, mencari jawaban, dan mencari solusi atas persoalan yang selama ini masih abu-abu,” ujar Amang.
Menurut dia, pemahaman terhadap kondisi kesuburan menjadi langkah penting sebelum pasangan menentukan metode program kehamilan. Penanganan yang tidak sesuai dengan kondisi medis berisiko membuat proses menjadi lebih panjang dan menambah biaya.
Karena itu, pasangan perlu mengetahui kondisi reproduksi masing-masing dan berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan langkah yang tepat.
“Tidak semua pasangan harus menjalani bayi tabung, tetapi metode tersebut juga tidak perlu dihindari apabila memang terdapat indikasi medis,” katanya.
Amang mengungkapkan, lebih dari 60 persen pasien yang datang ke klinik IVF ASA disebut memiliki prognosis kurang baik atau poor prognosis. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan jumlah sel telur yang terbatas, usia di atas 35 tahun, lama menikah tanpa kehamilan, serta masalah kesehatan reproduksi seperti endometriosis.
“Pemeriksaan dan penanganan sejak dini penting agar pasangan dapat memahami pilihan yang tersedia sesuai kondisi masing-masing,” ungkapnya.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Ali Mahmud, Sp.OG., SubspFER, menjelaskan bahwa perjalanan setiap pasangan dalam menjalani program bayi tabung berbeda-beda. Keberhasilan program tidak hanya berkaitan dengan kondisi medis, tetapi juga kesiapan finansial, emosi, keluarga, dan lingkungan sosial.
Melalui Hope Festival, ASA IVF berupaya membantu pasangan memahami persoalan yang mereka hadapi sekaligus mencari alternatif penanganan yang realistis.
“Program itu kompleks. Bukan hanya dari segi medis, tetapi juga finansial, emosional, keluarga, dan masyarakat. Kami mencoba mengurai bagaimana mengatasi masalah setiap pasangan dan mencari jalan tengah yang sesuai,” kata Ali.
Ia menegaskan, proses mendapatkan kehamilan tidak selalu berlangsung dalam satu kali percobaan. Sebagian pasangan dapat berhasil dalam waktu relatif singkat, sementara yang lain membutuhkan beberapa kali upaya.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
