Peningkatan jumlah wisatawan berdampak langsung pada permintaan kamar hotel. El Hotel Banyuwangi mencatat lonjakan pemesanan sejak Rabu (21/10/2026), dengan mayoritas tamu berasal dari Jakarta, Bali, dan Surabaya.
Sales Manager El Hotel Banyuwangi, Devi Krisna, mengatakan sejumlah tamu sengaja mengatur perjalanan agar bisa tinggal lebih lama di Banyuwangi dan menyaksikan Gandrung Sewu.
“Peningkatan okupansi terjadi sejak Rabu 21 Oktober 2026, mayoritas tamu kami adalah rombongan dari Jakarta, Bali, dan Surabaya yang sengaja stay sampai tanggal 25, untuk menyaksikan Gandrung Sewu. Bahkan tanggal 24, semua kamar kami penuh sehingga harus menolak reservasi,” ujar Devi.
Kondisi serupa dialami Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center. Sejak Kamis (22/10/2026), seluruh tipe kamar di hotel tersebut dilaporkan habis dipesan.
Sales and Marcom Manager Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center, Alif Fauzan, menyebut tingkat keterisian kamar diperkirakan tetap tinggi hingga Minggu (25/10/2026).
“Saat ini kamar kami penuh sampai 25 Oktober. Kami senang berbagai event yang digelar Pemkab Banyuwangi, termasuk Gandrung Sewu, memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha pariwisata seperti kami,” kata Alif.
Sementara itu, Villa Solong mencatat okupansi mencapai 91 persen pada Jumat pagi (23/10/2026). General Manager Villa Solong, Imam Solehan, memperkirakan jumlah pemesanan masih berpotensi bertambah menjelang malam.
“Pagi ini okupansi kami sudah 91 persen. Kami optimistis malam ini bisa fully booked. Karena pengalaman kami biasanya di last minute baru banyak pesanan,” tutur Imam.
Data dari ketiga penginapan tersebut memperlihatkan tingginya permintaan akomodasi selama periode penyelenggaraan Gandrung Sewu. Namun, tingkat hunian setiap penginapan tetap bergantung pada jumlah pemesanan masing-masing.
Wisatawan Prancis dan Belanda Datang Khusus Menonton Gandrung Sewu
Dampak kegiatan budaya ini tidak hanya dirasakan hotel berbintang. Pelaku usaha homestay juga menerima kunjungan wisatawan yang datang dengan tujuan menyaksikan pertunjukan di Pantai Boom.
Pemilik Didu’s Homestay, Maya Subagio, mengatakan agenda pariwisata yang rutin berlangsung di Banyuwangi turut memengaruhi permintaan kamar. Pada penyelenggaraan Gandrung Sewu tahun ini, penginapannya menerima tamu dari Prancis dan Belanda.
“Setiap ada event, pasti okupansi ikut terdongkrak. Kali ini, saya kedatangan sejumlah tamu dari Eropa, yakni Prancis dan Belanda, yang sengaja ingin menyaksikan Gandrung Sewu,” jelas Maya.
Kedatangan wisatawan mancanegara tersebut memperlihatkan bahwa kesenian daerah berpotensi menarik minat pengunjung dari luar negeri. Pertunjukan budaya tidak hanya menjadi agenda bagi masyarakat setempat, tetapi juga dapat menjadi salah satu alasan wisatawan memasukkan Banyuwangi dalam rencana perjalanan mereka.
Meningkatnya okupansi hotel dan homestay menjadi salah satu gambaran aktivitas ekonomi selama Gandrung Sewu 2026. Selain penginapan, kedatangan wisatawan berpotensi memberikan tambahan permintaan bagi sektor kuliner, transportasi, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski demikian, tingginya jumlah pengunjung tidak serta-merta menjamin seluruh pelaku usaha memperoleh manfaat yang sama. Sebaran pengunjung, lama tinggal wisatawan, akses menuju lokasi acara, serta keterlibatan usaha lokal turut menentukan luasnya dampak ekonomi yang dihasilkan.
Karena itu, keberhasilan agenda wisata tidak hanya dapat dilihat dari ramainya pertunjukan atau penuhnya kamar hotel. Peluang belanja wisatawan di luar lokasi acara dan keberlanjutan aktivitas usaha setelah kegiatan berakhir juga menjadi faktor penting.
Melalui konsep Glow in the Dark, Gandrung Sewu 2026 menghadirkan pendekatan baru dalam pementasan seni tradisional. Di sisi lain, meningkatnya permintaan akomodasi selama acara menunjukkan adanya hubungan antara agenda budaya, kunjungan wisatawan, dan aktivitas ekonomi masyarakat Banyuwangi.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
