SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Berawal dari keinginan membantu petani kopi lokal memasarkan hasil panen, Arya Setia Kanaka Dumadi justru berhasil membuka jalan menuju pasar internasional. Melalui QThink X, wisudawan Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini menghubungkan puluhan petani kopi Indonesia dengan pembeli dari luar negeri.
Dalam satu tahun pengembangan, platform yang dibangunnya telah menjangkau sekitar 50 petani kopi di berbagai daerah. Sejumlah transaksi ekspor juga telah dilakukan, mulai dari pengiriman lima kontainer kopi ke Eropa hingga satu kontainer ke Uni Emirat Arab (UEA).
Bagi Arya, QThink X bukan sekadar platform bisnis digital. Inisiatif tersebut berangkat dari persoalan yang selama ini dihadapi petani kopi, yakni memiliki produk berkualitas tetapi belum memiliki akses memadai untuk menjangkau pembeli internasional.
“Petani lokal punya produk unggulan, tetapi masih kesulitan menjualnya ke pasar yang tepat. Saya berpikir bagaimana produk mereka bisa menembus pasar global,” ujar Arya, Jumat (30/10/2026).
Melalui QThink X, pembeli dapat menelusuri asal-usul kopi hingga ke tingkat petani. Informasi yang disediakan mencakup harga, kualitas, ketersediaan stok, serta lokasi sumber produksi. Sistem ini sekaligus memberikan kepastian informasi bagi pembeli dan membuka peluang transaksi yang lebih terarah bagi petani.
Kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan regulasi pasar Eropa yang menuntut ketertelusuran produk, termasuk melalui European Union Deforestation Regulation (EUDR). Karena itu, QThink X dirancang untuk membantu pembeli memperoleh informasi mengenai asal produk sekaligus mengenali petani yang terlibat dalam proses produksinya.
“Pembeli di Eropa membutuhkan penelusuran produk kopi. Kami menyediakan data tersebut beserta informasi petaninya, sehingga mereka bisa mengetahui asal kopi yang dibeli,” jelasnya.
Petani yang tergabung dalam platform tersebut berasal dari sejumlah sentra produksi kopi di Indonesia. Di antaranya kawasan Gayo, Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Dampit, Malang Selatan.
Arya menyebut, salah satu pengiriman ke UEA menggabungkan empat jenis kopi dari sejumlah daerah, yakni Arabika Mandailing, Arabika Flores, Arabika Gayo, dan Robusta. Sementara itu, kopi Robusta dari Dampit, Malang, menjadi salah satu produk yang dikirim ke pasar Eropa.
Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas dan kesinambungan pasokan. Untuk memastikan kebutuhan pembeli terpenuhi, Arya bersama tim rutin mengunjungi lokasi produksi, mulai dari proses pengolahan buah kopi hingga menjadi biji kopi hijau atau green bean.
Mereka juga mulai membangun shelter di area sumber produksi agar proses pengolahan dan pengendalian pasokan dapat dilakukan lebih dekat dengan petani.
Tidak hanya menyediakan akses pasar, QThink X juga menyiapkan pendampingan bagi petani yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital. Tim khusus dilibatkan untuk memberikan pelatihan, termasuk membantu petani memasukkan informasi produk dan lokasi kebun ke dalam platform.
Bahkan, Arya ingin mengembangkan fitur yang memungkinkan konsumen kopi di luar negeri memberikan apresiasi secara langsung kepada petani melalui pemindaian barcode pada produk. Dengan begitu, hubungan antara petani, pembeli, dan penikmat kopi tidak berhenti pada transaksi jual beli.
“Kami ingin petani bisa naik kelas. Mereka tidak perlu memikirkan berbagai urusan teknis ekspor karena dokumen dan proses lainnya kami bantu. Petani cukup menyiapkan barang dan memastikan stok,” katanya.
Perjalanan Arya di bisnis kopi tidak dimulai dari platform digital. Sebelumnya, ia membangun Kazakopi, usaha roastery yang melayani pasar lokal. Dari aktivitas tersebut, ia semakin mengenal potensi kopi Indonesia sekaligus persoalan yang dihadapi petani dalam memasarkan hasil panen.
Ia juga mengembangkan Essuco, produk body scrub berbahan ampas kopi. Usaha tersebut menjadi upayanya mengolah sisa produksi menjadi produk baru yang memiliki nilai jual.
Pengalaman membangun beberapa usaha itu berjalan beriringan dengan proses studinya di program International Business Management–International Class UC Surabaya. Selama kuliah, Arya mendapat pembelajaran bisnis berbasis proyek, materi ekspor-impor, hingga pengalaman magang di perusahaan asuransi ekspor.
QThink X bahkan menjadi fokus penelitian skripsinya. Ia meneliti faktor-faktor yang berkaitan dengan minat petani kopi skala kecil untuk mengadopsi platform ketertelusuran produk.
Bagi Arya, keberhasilan bisnis tidak semata-mata diukur dari keuntungan aplikasi. Ia lebih menekankan keberlanjutan transaksi dan bertambahnya kontrak dengan pembeli global agar permintaan kopi dari petani terus berjalan.
Saat ini, QThink X didukung tim internal sekitar tujuh orang. Ke depan, Arya berharap platform tersebut dapat menjangkau lebih banyak sentra kopi di Indonesia, terutama karena setiap daerah memiliki karakter dan keunggulan kopi yang berbeda.
Kisah Arya menjadi salah satu gambaran semangat kewirausahaan yang diusung dalam wisuda UC Surabaya 2026 melalui tema “Innovating Humanity Through Entrepreneurial Leadership”. Tema tersebut menekankan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga menghadirkan solusi dan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UC Surabaya, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, M.ScA, CA., Ak, mengatakan lulusan perguruan tinggi perlu mampu menciptakan nilai dan menjawab kebutuhan nyata di tengah perubahan dunia kerja.
“Baik sebagai profesional maupun entrepreneur, semangat entrepreneurship harus menjadi bekal untuk terus menciptakan nilai, menangkap peluang, dan menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Wirawan.
Semangat tersebut tercermin dari capaian wisudawan UC tahun 2026. Sebanyak 90 persen lulusan dilaporkan telah memperoleh pekerjaan atau menjalankan bisnis sebelum lulus, baik sebagai profesional, wirausaha, maupun penerus bisnis keluarga.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
