Lansia Terlalu Dibatasi Beraktivitas, Risiko Penurunan Fungsi Tubuh Meningkat

Trisna Eka Adhitya
Konferensi pers simposium ortopedi dan rehabilitasi medik di Surabaya. (Foto : istimewa).

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Kebiasaan keluarga yang terlalu membatasi aktivitas orang tua karena faktor usia justru berpotensi mempercepat penurunan fungsi tubuh. Lanjut usia (lansia) tetap perlu bergerak dan melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan untuk menjaga kesehatan tulang, sendi, serta kekuatan otot.

Dokter Spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Surabaya, dr Teddy Heri Wardhana, mengatakan terlalu melindungi lansia hingga tidak memberi kesempatan beraktivitas secara mandiri merupakan salah satu kesalahan dalam perawatan orang tua.

“Orang Indonesia itu justru makin orang itu makin tua, makin senior, makin dieman oleh anak-anaknya, enggak boleh melakukan apa-apa. Lah, itulah awal dari mulai timbulnya gangguan-gangguan,” ujar Teddy dalam konferensi pers simposium ortopedi dan rehabilitasi medik di Surabaya, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Teddy, bertambahnya usia bukan berarti seseorang harus berhenti beraktivitas. Sebaliknya, aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mempertahankan fungsi tulang dan sendi sekaligus menjaga kemandirian lansia.

Dia mencontohkan, sejumlah negara tetap memberikan ruang bagi warga lanjut usia untuk melakukan pekerjaan maupun kegiatan sehari-hari selama masih mampu. Kebiasaan tersebut membantu mereka tetap aktif dan mempertahankan kemampuan fisik.

Meski demikian, aktivitas fisik harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan riwayat kesehatan masing-masing. Lansia dapat melakukan olahraga ringan, seperti berjalan kaki, serta latihan penguatan otot dengan intensitas terukur untuk mengurangi risiko cedera.

Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Siloam Hospitals Surabaya, dr Nunik, menambahkan bahwa menjaga kesehatan lansia tidak cukup hanya dengan aktivitas fisik. Pola makan dan kondisi psikologis juga perlu mendapat perhatian.

Lansia disarankan memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama protein dan serat. Selain berjalan kaki, aktivitas seperti latihan pernapasan dan yoga dapat dilakukan sesuai kemampuan tubuh.

Latihan keseimbangan juga penting untuk mengurangi risiko jatuh. Sebab, jatuh pada usia lanjut dapat menyebabkan cedera serius dan mengganggu kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari.

Hospital Director Siloam Hospitals Surabaya, dr Maria, mengatakan penanganan gangguan tulang dan sendi membutuhkan pendekatan komprehensif melalui kolaborasi berbagai disiplin ilmu. Tim medis yang terlibat antara lain dokter spesialis ortopedi, dokter rehabilitasi medik, perawat, dan fisioterapis.

Kolaborasi tersebut bertujuan agar pasien tidak hanya memperoleh penanganan medis, tetapi juga dapat memulihkan fungsi gerak dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Jadi ini adalah simposium sebelumnya antara lain bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi. Supaya clinical outcome-nya menjadi lebih baik,” kata Maria.

Dia menjelaskan, ortopedi menjadi salah satu center of excellence Siloam Hospitals Surabaya. Pengembangan layanan dilakukan melalui penguatan kompetensi tenaga medis, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan layanan rehabilitasi medik.

CEO Siloam Hospitals Surabaya, Indrijani Harsono, turut mendukung pengembangan tersebut melalui penguatan kapabilitas rumah sakit dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

Melalui integrasi layanan ortopedi dan rehabilitasi medik, penanganan lansia diharapkan tidak hanya berorientasi pada penyembuhan penyakit, tetapi juga mempertahankan fungsi gerak agar mereka tetap aktif dan mandiri.

Editor : Arif Ardliyanto

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network