Ketika Angka Pertumbuhan Tidak Lagi Cukup

OPINI
Guru Besar UNESA, Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS. (Foto : istimewa).

Oleh: Prof. Dr. Dian Anita Nuswantara, S.E., M.Si., Ak., CA, CIPSAS

Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

 

Perekonomian tidak hanya bergerak melalui angka. Ia juga bergerak melalui kepercayaan. Rumah tangga memutuskan apakah akan berbelanja atau menabung berdasarkan keyakinan terhadap pendapatan masa depan, perusahaan melakukan ekspansi ketika melihat permintaan dan kepastian usaha, sedangkan investor menanamkan modal ketika mempercayai institusi, kebijakan, dan prospek keuntungan dalam jangka panjang. 

Karena itu, ketika optimisme yang ditampilkan oleh indikator makroekonomi mulai berbeda dengan pengalaman ekonomi yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha, persoalannya tidak dapat diselesaikan hanya dengan menunjukkan bahwa produk domestik bruto masih tumbuh.

Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 yang diterbitkan LPEM FEB Universitas Indonesia memberikan peringatan menarik mengenai keadaan tersebut. Survei independen yang dilakukan pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 itu melibatkan 63 ahli ekonomi dari akademisi, lembaga penelitian, think tank, sektor swasta, universitas luar negeri, dan institusi internasional. 

Dengan cakupan tersebut, survei ini tentu bukan pengganti statistik resmi dan tidak seharusnya dibaca sebagai ramalan yang pasti terjadi. Namun ia memberikan sesuatu yang berbeda: gambaran mengenai bagaimana para ahli membaca kualitas dan arah perekonomian di balik angka-angka agregat.

Pesannya cukup kuat. Sebanyak 52 persen ahli menilai kondisi ekonomi Indonesia lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari pasar tenaga kerja: 73 persen responden menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya, dan penurunan penilaian terhadap pasar kerja merupakan perubahan yang signifikan secara statistik dibandingkan survei semester pertama. Pada saat yang sama, 78 persen responden menilai tekanan inflasi terhadap perekonomian masih tinggi.

Tiga angka tersebut sebaiknya dibaca bersama. Pertumbuhan ekonomi dapat tetap positif, tetapi kualitas pertumbuhan menjadi persoalan apabila kemampuan perekonomian menciptakan pekerjaan melemah sementara biaya hidup memberikan tekanan kepada rumah tangga. 

Dalam keadaan seperti itu, perdebatan mengenai ekonomi tidak lagi cukup berhenti pada pertanyaan “berapa persen pertumbuhan kita?”, melainkan harus bergerak kepada pertanyaan yang lebih substantif: pertumbuhan itu berasal dari mana, siapa yang memperoleh manfaatnya, pekerjaan seperti apa yang diciptakannya, dan apakah pertumbuhan tersebut meningkatkan produktivitas serta pendapatan masyarakat secara berkelanjutan?

Editor : Arif Ardliyanto

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network