Jarak itulah yang perlu dipersempit.
Indonesia tetap mempunyai modal ekonomi yang besar: pasar domestik, bonus demografi, sumber daya alam, basis manufaktur, posisi strategis dalam rantai pasok Asia, serta peluang dari ekonomi digital dan transisi energi. Namun modal tersebut tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan tinggi. Ia membutuhkan institusi yang kredibel, investasi produktif, tenaga kerja yang semakin terampil, kebijakan fiskal yang disiplin sekaligus berkualitas, serta dunia usaha yang mempunyai kepastian untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
Target delapan persen karena itu sebaiknya tetap dipandang sebagai ambisi, tetapi keberhasilannya jangan diukur dari kemampuan mempertahankan angka tersebut dalam pidato dan dokumen perencanaan. Ukurlah dari apakah produktivitas mulai meningkat, investasi menjadi lebih berkualitas, industri semakin dalam, pekerjaan formal bertambah, pendapatan riil tumbuh, dan masyarakat mempunyai alasan yang nyata untuk percaya bahwa masa depannya akan lebih baik.
Pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukanlah ekonomi yang paling pandai menghasilkan angka optimistis, melainkan ekonomi yang membuat angka pertumbuhan dan pengalaman hidup masyarakat bergerak ke arah yang sama.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
