Dia juga mengingatkan pentingnya mekanisme checks and balances atau pengawasan dan keseimbangan antarlembaga negara. Sistem tersebut menjadi instrumen penting untuk mencegah kekuasaan terpusat pada satu pihak yang berpotensi memicu penyalahgunaan wewenang.
Prof. Zainal menilai demokrasi tidak cukup hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umum. Demokrasi yang sehat harus menjamin kebebasan masyarakat, supremasi hukum, akuntabilitas pemerintah, serta keadilan bagi seluruh warga negara.
Di hadapan mahasiswa, dia secara khusus meminta generasi muda tidak apatis terhadap persoalan sosial dan politik. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya keberanian intelektual, tempat mahasiswa bebas menyampaikan pendapat, menguji kebijakan, sekaligus mempertahankan integritas.
"Anak muda adalah pemilik masa depan. Karena Anda adalah pemilik masa depan, maka Anda harus memimpin di masa mendatang. Itu harga mati," tegasnya.
Dia menambahkan, pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademis maupun kemampuan profesional. Integritas moral, keberanian menyampaikan kebenaran, dan kepedulian terhadap kepentingan publik harus menjadi bagian dari karakter generasi penerus bangsa.
Melalui kuliah umum ini, Universitas Ciputra Surabaya berupaya menghubungkan pengetahuan akademis dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Isu pemberantasan korupsi dan penguatan demokrasi menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kritis sivitas akademika.
Forum tersebut sekaligus mengingatkan bahwa makna kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, demokrasi yang sehat, penegakan hukum, dan keadilan sosial.
Tantangan itulah yang harus dijawab generasi muda agar masa depan Indonesia tidak hanya diwarisi, tetapi juga diperjuangkan dengan keberanian dan integritas.
Editor : Arif Ardliyanto
Artikel Terkait
