Salat Dhuha Rutin Jadi Program Pembentukan Karakter Sekolah, Begini Respon Orang Tua Siswa
SIDOARJO, iNewsSurabaya.id — Membentuk generasi yang kuat, berakhlak mulia, dan memiliki keimanan kokoh menjadi cita-cita besar setiap orang tua. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Sekolah Dasar (SD) Mumtaz Sepanjang, Sidoarjo, hadir dengan terobosan nyata dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan setiap pagi.
Salah satu kegiatan unggulan yang diterapkan di sekolah ini adalah salat Dhuha berjamaah. Setiap hari, sebelum memulai pelajaran, seluruh siswa diajak menunaikan salat sunnah tersebut secara bersama-sama di kelas masing-masing. Hal ini bukan sekadar rutinitas spiritual, namun juga sebagai bagian dari pembiasaan positif yang ditanamkan sejak dini.
Kepala Sekolah SD Mumtaz, Fatchul Mubarok, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan ini merupakan fondasi penting dalam pendidikan karakter siswa. Menurutnya, salat Dhuha mampu memperkuat kedekatan anak-anak dengan nilai-nilai Islam, sekaligus membentuk kepribadian yang lebih bertanggung jawab dan disiplin.
“Kami ingin anak-anak terbiasa dengan amalan baik sejak usia dini. Harapannya, kebiasaan ini tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga terbawa ke lingkungan rumah dan masyarakat,” ujarnya.
Salat Dhuha sendiri memiliki banyak keutamaan yang telah disebutkan dalam berbagai hadis. Di antaranya adalah membuka pintu rezeki, menjaga dari godaan setan, menjadi pengganti sedekah untuk setiap persendian tubuh, hingga pahalanya yang setara dengan ibadah haji dan umrah. Bahkan, disebutkan bahwa Allah akan membangunkan rumah di surga bagi mereka yang rutin menunaikannya.
Dengan manfaat yang begitu besar, tak heran jika pihak sekolah memilih salat Dhuha sebagai medium untuk membentuk karakter siswa secara spiritual dan sosial.
Program ini mendapat sambutan hangat dari para wali murid. Salah satunya adalah Ratna Nawang, orang tua dari salah satu siswa SD Mumtaz. Ia merasa bersyukur atas perubahan positif yang dilihat pada putrinya setelah mengikuti pembiasaan salat Dhuha di sekolah.
“Alhamdulillah, anak saya yang masih usia dini sudah terbiasa salat dan mulai paham nilai-nilai agama. Saya sangat terharu dan berharap dia bisa istiqomah,” ungkap Ratna.
Keberhasilan pendidikan karakter tidak lepas dari sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. SD Mumtaz membuktikan bahwa dengan pendekatan yang konsisten dan melibatkan semua pihak, pembentukan akhlak mulia pada anak bisa berjalan optimal.
Program seperti ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Jawa Timur, bahkan di seluruh Indonesia, dalam mewujudkan generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan dekat dengan nilai-nilai keislaman.
Editor : Arif Ardliyanto