get app
inews
Aa Text
Read Next : Oud Soerabaja Hunter, Menyusuri Jejak Bangunan Tua Surabaya

Gedung Grahadi Runtuh, Ini Langkah Cepat Tim Pelestarian Cagar Budaya Pulihkan Warisan Kolonial

Senin, 01 September 2025 | 17:27 WIB
header img
Tragedi kebakaran yang melanda Gedung Negara Grahadi pada Sabtu malam (30/8/2025) meninggalkan jejak kerusakan serius pada salah satu bangunan bersejarah penting di Surabaya. Foto iNewsSurabaya/lukman

SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Tragedi kebakaran yang melanda Gedung Negara Grahadi pada Sabtu malam (30/8/2025) meninggalkan jejak kerusakan serius pada salah satu bangunan bersejarah penting di Surabaya. Api yang dipicu oleh lemparan molotov saat aksi unjuk rasa tak hanya membakar struktur bangunan barat, tapi juga mengancam integritas kompleks cagar budaya yang telah berdiri sejak masa kolonial.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya, Retno Hastijanti, menegaskan bahwa saat ini pihaknya tengah mempercepat upaya perlindungan agar kerusakan tidak semakin meluas.

“Setelah penyelamatan pasca kebakaran, fokus kami beralih pada perlindungan fisik bangunan agar bagian-bagian yang tersisa tidak ikut rusak,” ujar Retno saat ditemui Senin (1/9/2025).

Berdasarkan kajian awal tim, kebakaran tergolong menyebabkan kerusakan mayor. Bangunan barat yang terbakar — yang merupakan ruang kerja Wakil Gubernur dan Biro Umum — mengalami kehancuran total di bagian atap. Kusen pintu dan jendela hangus terbakar, menyisakan tembok dan pilar sebagai satu-satunya bagian yang masih berdiri.

“Struktur atap yang merupakan elemen penting bangunan kolonial itu hancur sepenuhnya. Kami khawatir jika tidak segera dilindungi, kerusakan bisa menjalar ke elemen lain,” ungkap Retno.

Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi mengenaskan: reruntuhan berserakan, sisa arang terlihat di hampir seluruh sisi dalam bangunan, dan risiko runtuh susulan masih mengintai.

Kompleks Grahadi terdiri dari tiga bangunan yang membentuk huruf U timur, tengah, dan barat. Sementara bagian tengah telah lebih dulu ditetapkan sebagai cagar budaya, bangunan barat yang terbakar belum resmi menyandang status tersebut, meski masih menyatu dalam satu kawasan.

Retno menjelaskan, dalam kajian terbaru, tim ahli mengusulkan agar seluruh kawasan Grahadi dinaikkan statusnya menjadi cagar budaya tingkat provinsi, sesuai amanat UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

“Meski baru sebagian yang ditetapkan, karena ini satu kompleks, bangunan penunjang tetap akan dimasukkan dalam kategori cagar budaya,” jelasnya.

Saat ini tim tengah melakukan assessment lapangan untuk menentukan bagian mana yang paling rawan rusak akibat cuaca, kelembapan, atau ancaman struktur. Beberapa bagian akan dipasangi pelindung sementara sambil menunggu hasil koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Trowulan, Mojokerto.

“Kecepatan sangat penting karena kita juga menghadapi musim hujan. Air bisa mempercepat pelapukan sisa bangunan yang terbakar,” tambah Retno.

Selain itu, proses pengumpulan data sedang dilakukan untuk menyusun laporan kerusakan lengkap yang akan diserahkan kepada Wali Kota Surabaya sebagai dasar pengambilan kebijakan restorasi atau rekonstruksi.

Kebakaran Gedung Negara Grahadi bukan sekadar insiden biasa. Ia adalah alarm keras bagi perlindungan warisan sejarah. Gedung ini tidak hanya memiliki nilai arsitektur kolonial, tetapi juga menjadi simbol pemerintahan dan perjalanan sejarah Jawa Timur.

Kerusakan besar yang ditimbulkan menjadi tantangan besar bagi para ahli pelestarian budaya. Namun upaya percepatan perlindungan yang sedang dilakukan diharapkan dapat menyelamatkan sisa-sisa nilai sejarah yang masih bisa dipertahankan.

Editor : Arif Ardliyanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut