Sekolah Vertical Rescue, Pendidikan Penyelamatan Mahasiswa UTM, Sering Berlatih Di Tebing Tinggi
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UTM, Surokim, S.Sos., SH., M.Si., menegaskan bahwa universitas berperan penting dalam menyiapkan mahasiswa agar tangguh dan adaptif menghadapi tantangan zaman.
“Dunia pendidikan tidak boleh berhenti pada teori. Mahasiswa harus punya ruang untuk mengasah keterampilan nyata. Pelatihan seperti ini adalah laboratorium kehidupan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tak hanya belajar teknik tali-temali, rappelling, atau evakuasi korban, tetapi juga dilatih berpikir cepat, mengambil keputusan kritis, serta berkomunikasi efektif — kemampuan yang dibutuhkan di dunia profesional dan kemanusiaan.
Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 menjadi contoh nyata kolaborasi lintas profesi. Para peserta berasal dari kampus, lembaga sosial, instansi pemerintah, hingga komunitas relawan independen. Mereka bekerja bersama, belajar bersama, dan saling mempercayai di medan latihan yang penuh tantangan.
“Solidaritas itu lahir saat kita sama-sama menghadapi dinding tebing dan tali yang sama. Keselamatan adalah hasil dari kepercayaan dan kolaborasi,” tutur Data Pela.
Universitas Trunojoyo Madura memandang kegiatan ini sebagai wujud nyata dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam aspek Pendidikan Berkualitas (Quality Education), Kesehatan dan Kesejahteraan (Good Health and Well-being), serta Kemitraan untuk Tujuan Bersama (Partnerships for the Goals).
Pembina MPA GHUBATRAS, Taufani Sagita, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi konkret antara dunia akademik dan praktisi kemanusiaan.
“Pelatihan ini bukan hanya menempa fisik, tapi juga membentuk karakter mahasiswa agar siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Menantang Ketinggian, Menguatkan Tulang dan Hati
Filosofi “Challenge The Height, Strengthen The Bone” menjadi refleksi perjalanan para peserta. Mereka tidak hanya belajar menaklukkan ketinggian, tetapi juga membangun ketangguhan hati.
“Yang paling berharga bukan sekadar ilmu teknis, tapi bagaimana kita ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli,” kata Adrian Daely, salah satu instruktur VRI.
Sejak berdiri tahun 1989, MPA GHUBATRAS UTM telah berkomitmen tidak hanya pada kegiatan alam bebas dan konservasi, tetapi juga aksi kemanusiaan. Melalui pelatihan seperti ini, semangat solidaritas dan kepedulian itu terus diturunkan kepada generasi muda.
“Ketangguhan sejati bukan datang dari kekuatan fisik semata, tapi dari kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja sama,” tutup Roki Saputra, instruktur sekaligus relawan kemanusiaan.
Editor : Arif Ardliyanto