Penerima Beasiswa Ada yang Punya Pajero, Pemkot Surabaya Perbarui Data dan Fokus Warga Miskin
Meski demikian, Pemkot tetap menerapkan prinsip pemerataan. Jumlah penerima dibatasi maksimal dua anak dalam satu keluarga, selaras dengan skema Program Keluarga Harapan (PKH), agar bantuan tidak menumpuk pada keluarga tertentu.
“Kami batasi satu keluarga seperti PKH dua anak. Tapi kita perbanyak penerimanya. Yang kami utamakan adalah keluarga miskin,” tegas Eri.
Eri juga menegaskan, keluarga mampu tidak menjadi prioritas penerima beasiswa dari Pemkot Surabaya. Pengecualian hanya diberikan bagi mereka yang memiliki prestasi tertentu, itu pun setelah seluruh kebutuhan keluarga miskin dan pra-miskin terpenuhi.
“Setelah itu, tidak mungkin keluarga yang mampu mendapatkan beasiswa dari pemerintah kota,” katanya.
Untuk memastikan kebijakan berjalan tepat sasaran, Pemkot Surabaya kini melakukan pembaruan dan pembersihan data penerima bantuan secara menyeluruh. Langkah ini diambil setelah ditemukan banyak penerima yang kondisi ekonominya tak sesuai dengan data yang tercatat.
“Ada yang dibilang orang tuanya buruh, ternyata masih PNS. Ada juga yang ternyata mampu, mobilnya macam-macam, bahkan Pajero. Data seperti itu harus kita hapus,” ungkap Eri.
Ia menilai, subsidi pendidikan yang salah sasaran justru berpotensi menggagalkan tujuan utama, yakni peningkatan kesejahteraan warga yang benar-benar membutuhkan.
Dalam mendukung akses pendidikan tinggi, Pemkot Surabaya juga telah menjalin kerja sama dengan seluruh perguruan tinggi, termasuk Universitas Airlangga (UNAIR) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui kerja sama ini, mahasiswa dari keluarga miskin dan pra-miskin tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau.
“Kalau yang tidak mampu di kedokteran saja bisa bayar Rp2,5 juta, masa perguruan tinggi lainnya sampai Rp10 juta,” ujar Eri.
Pemkot Surabaya memastikan, selama warga masuk kategori miskin dan pra-miskin, akses terhadap Program Beasiswa Pemuda Tangguh akan selalu terbuka. Bagi Pemkot, beasiswa bukan sekadar angka dalam anggaran, melainkan harapan baru agar pendidikan benar-benar menjadi jalan keluar dari kemiskinan.
Editor : Arif Ardliyanto