Harga Emas Terus Naik, Prediksi Akhir 2026 Hampir Tembus Rp3 Juta, Pengamat Ekonomi Ungkap Alasannya
Selain itu, langkah bank sentral di berbagai negara yang terus menambah cadangan emas juga menjadi katalis penting. Fenomena ini dinilai bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat stabilitas cadangan devisa.
“Diversifikasi cadangan devisa agar tidak terlalu bergantung pada dolar AS mendorong bank sentral membeli emas dalam jumlah besar. Ini menjadi penopang kuat harga emas ke depan,” tambah Zulfikri.
Dampak kenaikan harga emas global turut terasa hingga ke dalam negeri. Di tengah dinamika ekonomi yang cepat berubah, minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas justru semakin menguat. PT Pegadaian, sebagai salah satu penyedia layanan investasi emas, mencatat antusiasme yang masih tinggi dari masyarakat.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Pegadaian Kanwil XII Surabaya, Mualimin, mengungkapkan bahwa emas tetap menjadi instrumen favorit, baik bagi investor pemula maupun masyarakat yang ingin menjaga nilai asetnya.
“Di tengah fluktuasi pasar dan ketidakpastian ekonomi, emas masih dipercaya sebagai investasi yang relatif aman. Minat terhadap produk emas Pegadaian, seperti cicilan emas dan tabungan emas, masih sangat kuat,” kata Mualimin.
Menariknya, kenaikan harga emas justru dinilai meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya investasi jangka panjang. Banyak nasabah mulai memahami bahwa emas bukan instrumen spekulasi sesaat, melainkan sarana menjaga nilai kekayaan.
“Masyarakat kini semakin sadar bahwa emas cocok untuk tujuan jangka panjang. Kami terus mendorong literasi keuangan agar masyarakat berinvestasi secara bijak dan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Meski prospeknya dinilai cerah, para pengamat tetap mengingatkan potensi volatilitas harga emas dalam jangka pendek. Rilis data ekonomi global atau perubahan sentimen pasar masih bisa memicu koreksi harga.
“Koreksi tetap mungkin terjadi. Namun secara fundamental, prospek emas sepanjang 2026 masih cukup solid,” pungkas Zulfikri.
Dengan peran sebagai aset safe haven, dukungan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta pembelian agresif oleh bank sentral dunia, emas diperkirakan tetap menjadi primadona investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum berakhir.
Editor : Arif Ardliyanto