Layanan Pelabuhan Tersendat, Keterlambatan Bongkar Muat Picu Lonjakan Biaya Logistik
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Efisiensi layanan pelabuhan kembali menjadi sorotan tajam. Memasuki awal tahun 2026, sejumlah pelabuhan utama mengalami keterlambatan waktu sandar dan proses bongkar muat yang signifikan.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mengungkapkan bahwa di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, proses yang biasanya tuntas dalam 3 hari kini molor hingga 6 hari. Kondisi ini diduga kuat akibat buruknya performa alat bongkar muat yang sudah uzur.
"Beberapa alat bongkar muat atau crane sudah tua, terutama di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam dan TPK Mirah. Produktivitas terjun bebas; jika idealnya per jam bisa menangani 30-40 kontainer, sekarang hanya mampu 10 kontainer," ujar Sebastian, Kamis (29/1/2026).
Imbas dari lambatnya perputaran kapal adalah terjadinya shortage atau kelangkaan kontainer kosong. Para pelaku jasa forwarder mengeluhkan jadwal pengiriman yang menjadi berantakan.
Sebastian mencontohkan, untuk pengiriman bahan baku pupuk ke Sampit, pihaknya kini hanya mendapatkan jatah 10 kontainer per hari dari yang biasanya 40 kontainer. "Ini berarti volume pengiriman kami anjlok dari 1.000 ton menjadi hanya 250 ton per hari," tambahnya.
Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya Steven H. Lesawengen mengatakan keterlambatan penanganan bongkar muat kapal juga terjadi di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya.
“Keterlambatan penanganan bongkar muat kapal di TPK Berlian Pelabuhan Tanjung Perak karena alat belum siap,” ungkapnya.
Manajemen TPK Nilam Tanjung Perak menampik adanya kerusakan alat bongkar muat di terminal tersebut. Sedangkan Perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS), Komang menjelaskan bahwa keterlambatan kapal sandar dan bongkar muat masih dalam batas kewajaran dan dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama cuaca.
“Keterlambatan ini wajar terjadi karena faktor cuaca yang tidak menentu. Sebelumnya kami juga sudah melakukan sosialisasi kepada para pengguna jasa agar kondisi ini dapat diantisipasi,” ujar Komang.
Komang mengakui bahwa trafik kapal dan bongkar muat pada periode Desember hingga Januari meningkat tajam. Lonjakan ini seiring dengan tingginya aktivitas distribusi barang menjelang akhir tahun dan awal tahun.
“Traffic di bulan Desember sampai Januari memang naik. Ditambah lagi faktor cuaca yang kurang bersahabat, sehingga proses pelayanan menjadi terhambat,” katanya.
Untuk menekan dampak keterlambatan sekaligus menjaga kelancaran arus barang, TPKS menyiapkan langkah antisipatif dalam waktu dekat.
Komang menyebutkan bahwa pihaknya berencana menambah sejumlah peralatan pendukung bongkar muat. Yakni akan menambah 4 kontainer crane dan penambahan dermaga sepanjang 275 meter, serta beberapa penambahan area stacking.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas terminal dan mempersingkat waktu tunggu kapal. Dengan demikian, pasokan kontainer ke relasi dapat kembali lancar, biaya operasional pelayaran lebih terkendali, dan tekanan terhadap biaya logistik nasional dapat diminimalkan.
Editor : Arif Ardliyanto