Viral Kisah Sarjana Pertama di Keluarga, Strategi Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan Tinggi
SURABAYA, iNewsSurabaya.id — Di sudut-sudut Kota Pahlawan, mimpi ribuan anak dari keluarga kurang mampu kembali menyala. Bagi mereka, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, melainkan satu-satunya jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah dinamika dan evaluasi Program Beasiswa Pemuda Tangguh, suara harapan justru menguat dari para penerima manfaat. Cerita tentang perjuangan menembus bangku kuliah kini menjadi pembicaraan publik, menyentuh empati banyak warga Surabaya.
Bagi keluarga sederhana, satu anak yang berhasil menjadi sarjana berarti satu babak baru dalam kehidupan. Pendidikan tinggi menjadi simbol perubahan nasib—bukan hanya bagi sang anak, tetapi bagi seluruh keluarga.
Harapan itu tergambar jelas dari testimoni mahasiswa yang viral dan diunggah ulang melalui akun TikTok Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada Rabu (5/2/2026). Dalam tayangan tersebut, seorang mahasiswa menyampaikan kalimat sederhana yang sarat makna.
“Semoga saya nanti menjadi lulusan sarjana pertama di keluarga saya,” ujarnya lirih.
Cerita serupa datang dari Anisah Wahyu Triska, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, yang berdiri berdampingan dengan Natalia Karolina Boling dari Program Studi Manajemen Universitas Wijaya Putra (UWP).
“Di keluarga ini, aku sarjana pertama,” ucap Anisah dengan mata berbinar.

Pernyataan itu merepresentasikan realitas yang masih dihadapi banyak keluarga di Surabaya. Keterbatasan ekonomi kerap menjadi tembok tinggi yang membatasi akses pendidikan tinggi, meski semangat belajar tak pernah padam.
Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya menegaskan komitmennya melalui Program Beasiswa Pemuda Tangguh. Program ini menjadi tulang punggung kebijakan Satu Kartu Keluarga, Satu Sarjana, yang dirancang untuk memastikan setiap keluarga—terutama dari kelompok miskin dan pra-miskin—memiliki peluang melahirkan sarjana pertama.
Editor : Arif Ardliyanto