Viral Kisah Sarjana Pertama di Keluarga, Strategi Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan Tinggi
Dalam implementasinya, Pemkot Surabaya menggandeng 32 perguruan tinggi negeri dan swasta melalui kerja sama resmi atau nota kesepahaman (MoU). Melalui skema ini, sebanyak 24.000 mahasiswa ditargetkan menerima bantuan beasiswa, dengan prioritas utama warga Surabaya dari keluarga kurang mampu.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa persoalan biaya tidak boleh lagi menjadi alasan anak-anak Surabaya terhenti pendidikannya.
“Kita semua berharap tidak ada lagi anak Surabaya yang tidak sekolah karena keterbatasan biaya. Karena kolaborasi dan sinergi Pemerintah Kota Surabaya hadir untuk merealisasikan program ‘1 Kartu Keluarga 1 Sarjana’,” tegas Eri.
Menurut Eri, beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan investasi sosial jangka panjang. Pendidikan tinggi diyakini menjadi kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan yang selama ini terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komitmen tersebut mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Rektor Universitas Wijaya Putra, Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum., menyebut kebijakan ini sebagai langkah progresif yang menghadirkan keadilan dalam dunia pendidikan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota yang telah menetapkan kebijakan melalui Perwali Nomor 4 Tahun 2026. Kebijakan ini tidak membedakan PTN atau PTS, tetapi benar-benar berpihak pada mahasiswa warga Surabaya,” ujarnya.
Budi menambahkan, kebijakan ini sekaligus menempatkan tanggung jawab moral bagi perguruan tinggi untuk memastikan mahasiswa penerima beasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Kampus tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga pengawal keberhasilan program.
Dukungan senada juga disampaikan Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. Ia menilai Program Beasiswa Pemuda Tangguh sebagai langkah strategis untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
“Ini adalah program yang luar biasa untuk memutus rantai kemiskinan,” kata Nurhasan.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Timur menunjukkan bahwa persoalan pendidikan dan kemiskinan bukan sekadar isu lokal, melainkan tanggung jawab bersama.
Di akhir pesannya, Eri Cahyadi kembali menegaskan bahwa beasiswa harus menjadi jalan perubahan nyata, bukan sekadar bantuan sesaat.
“Dengan lulus dari perguruan tinggi dan membahagiakan orang tua, kalian bisa mengubah nasib keluarga melalui ilmu yang didapat,” pungkasnya.
Di tengah dinamika kebijakan dan evaluasi program, satu benang merah tetap jelas terlihat. Bagi ribuan keluarga di Surabaya, pendidikan tinggi masih menjadi harapan paling nyata untuk keluar dari kemiskinan. Program Beasiswa Pemuda Tangguh pun diharapkan terus menjadi jembatan yang adil dan berkelanjutan menuju masa depan yang lebih baik.
Editor : Arif Ardliyanto