Operasi Senyap PKB Jelang Muktamar NU, Ada Empat Nama Kandidat Kuat, Ini Sosoknya?
SURABAYA, iNewsSurabaya.id – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), suhu politik di tubuh jam’iyyah terbesar di dunia itu kian terasa menghangat. Di balik forum-forum silaturahmi kiai, pengajian tertutup, hingga obrolan antar-pengurus daerah, terselip satu pertanyaan besar: ke mana arah NU akan melangkah?
Sejumlah pengurus NU di daerah membaca adanya gerak senyap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tengah menata ulang langkah politiknya. Tujuannya bukan sekadar mencari kedekatan, melainkan berupaya mengembalikan relasi NU–PKB ke rel historis yang lebih harmonis, sebagaimana khittah awal kelahiran partai tersebut pada 1998.
Wakil Sekretaris PC NU Kabupaten Bandung Barat, Asep Hidayatul Muttaqin, S.Ag., MM, menilai ketegangan yang berlangsung beberapa tahun terakhir antara PBNU di bawah KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan PKB pimpinan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi pemantik utama konsolidasi diam-diam itu.
“Dalam politik, tidak ada ruang kosong. Ketika PKB membaca ada jarak yang makin lebar dengan PBNU, maka langkah konsolidasi menjadi keniscayaan,” ujar Asep kepada wartawan.
Bagi banyak warga Nahdliyin di akar rumput, NU dan PKB bukan dua entitas yang sepenuhnya terpisah. Keduanya lahir dari rahim kultural yang sama: pesantren, kiai, dan tradisi ahlussunnah wal jama’ah. Ketika hubungan keduanya renggang, dampaknya terasa hingga tingkat bawah.
Asep menilai, kepemimpinan PBNU saat ini dipersepsikan sebagian kalangan terlalu menjaga jarak dari PKB, sehingga memunculkan kerinduan akan figur pemersatu yang mampu merawat jam’iyyah tanpa memutus ikatan historis dengan rumah politik Nahdliyin.
“Di sinilah Muktamar ke-35 menjadi sangat strategis. Ini bukan sekadar soal siapa ketua umum, tapi soal arah besar NU ke depan,” katanya.
Editor : Arif Ardliyanto