Operasi Senyap PKB Jelang Muktamar NU, Ada Empat Nama Kandidat Kuat, Ini Sosoknya?
Empat Nama yang Ramai Dibicarakan
Dalam diskursus internal NU, setidaknya empat figur kiai kerap disebut-sebut sebagai sosok yang dinilai lebih dekat dengan aspirasi PKB, sekaligus memiliki modal kultural dan struktural yang kuat.
KH. Abdul Salam Shohib (Gus Salam)
Pengasuh Pesantren Denanyar, Jombang, ini memiliki legitimasi historis sebagai cucu muassis NU dan paman Cak Imin. Di kalangan kiai sepuh, Gus Salam dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap arah kepemimpinan PBNU saat ini.
“Gus Salam membawa suara NU tradisional yang ingin PBNU lebih akomodatif terhadap aspirasi politik warga Nahdliyin,” ujar Asep.
KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang, disebut sebagai figur perekat lintas kubu. Mundurnya Gus Yusuf dari struktur DPW PKB Jawa Tengah dinilai bukan langkah mundur, melainkan strategi menjaga jarak formal agar tetap diterima luas menjelang Muktamar.
“Ia punya jaringan pesantren kuat dan diterima banyak kalangan. Ini modal penting di tengah polarisasi,” jelas Asep.
KH. Imam Jazuli
Sebagai pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Kiai Imam dikenal sebagai ideolog PKB yang paling konsisten. Ia menjadi salah satu tokoh yang lantang membela PKB saat relasinya dengan PBNU memanas. Bahkan, jargon ‘Nahdliyin 24 Karat’ yang menegaskan identitas politik warga NU, lahir dari gagasannya.
“Beliau menekankan PBNU sebagai civil society dan PKB sebagai rumah politik Nahdliyin. Dua-duanya harus berjalan sejajar, bukan saling menundukkan,” tutur Asep.
KH. Zulfa Mustofa
Wakil Ketua Umum PBNU ini sering disebut sebagai figur ‘kuda hitam’. Posisi strukturalnya di PBNU, ditambah kedekatan kultural dengan PKB serta statusnya sebagai keponakan KH. Ma’ruf Amin, membuatnya berada di titik tengah yang unik.
“Gus Zulfa punya kelebihan sebagai jembatan. Ia diterima di jam’iyyah, tapi tidak alergi dengan PKB,” katanya.
Muktamar dan Taruhan Arah Politik NU
Asep menilai dinamika ini dapat dibaca melalui teori pertukaran sosial. PKB merasa kontribusinya terhadap NU—baik secara politik maupun kultural—tidak mendapat resonansi yang sepadan di level struktural PBNU.
Padahal, secara historis, PKB lahir melalui mandat resmi PBNU pasca-Reformasi.
“PKB adalah anak kandung NU. Hubungannya mestinya simbiotik, bukan saling mencurigai,” tegasnya.
Konflik internal PBNU yang kerap disederhanakan dengan istilah ‘Kelompok Sultan’ dan ‘Kelompok Kramat’ kian memperjelas bahwa Muktamar ke-35 akan menjadi arena penentuan: apakah NU memilih kembali merangkul seluruh spektrum Nahdliyin, atau mempertahankan jarak politik yang selama ini terbangun.
Asep bahkan menyebut kemungkinan munculnya paket Rais Aam ‘made in PKB’, dengan nama KH. Ma’ruf Amin dan KH. Said Aqil Siradj, sebagai bagian dari skenario besar menjelang detik-detik akhir Muktamar.
“Bukan tidak mungkin, di injury time, semua mengerucut pada satu nama kompromi. Di situlah pertarungan sesungguhnya dimulai,” pungkasnya
Editor : Arif Ardliyanto