Tekanan Daya Beli dan Tarif Data Rendah Jadi Tantangan Operator Seluler
SURABAYA, iNewsSurabaya.id - Industri telekomunikasi Indonesia menghadapi tantangan besar sepanjang 2025. Di tengah fluktuasi kondisi makroekonomi dan tekanan daya beli masyarakat, operator seluler mulai mengubah strategi bisnis.
Regional Group Head XLSmart East Region, Dodik Ariyanto, mengungkapkan kinerja keuangan sepanjang 2025 sangat dipengaruhi dinamika ekonomi nasional, terutama pada periode September yang sempat mengalami perlambatan.
Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah posisi Indonesia sebagai negara dengan tarif data internet termurah di dunia. Rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) di Indonesia bahkan berada di peringkat tiga hingga empat terendah secara global.
“Sekadar informasi, ARPU Indonesia masih sangat rendah. Dulu kita setara India, sekarang India sudah lebih tinggi. Sebagai perbandingan, di Singapura harga data bisa mencapai Rp100 ribu per giga, sementara di Indonesia masih di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000,” ujar Dodik, Minggu (8/2/2026).
Kondisi tersebut memaksa operator seluler bekerja ekstra keras menyeimbangkan kemampuan daya beli masyarakat dengan rasio biaya (cost-to-benefit) agar bisnis tetap berkelanjutan.
Menghadapi tekanan industri, perusahaan mulai melakukan transformasi fundamental dalam model bisnis. Jika sebelumnya operator seluler hanya dikenal sebagai penyedia infrastruktur atau “penjual pipa”, kini mereka beralih menjadi penyedia solusi teknologi yang lebih luas.
Dodik menggambarkan perubahan ini melalui analogi jalan tol. Jika sebelumnya pendapatan hanya bergantung pada pengguna yang membayar akses jaringan, kini operator berupaya menciptakan ekosistem layanan tambahan layaknya rest area.
“Dulu kita hanya berharap profit dari orang yang bayar tol. Sekarang kita bicara bagaimana pelanggan masuk ke rest area, di mana ada tenant dan berbagai layanan tambahan yang bisa dimanfaatkan pelanggan,” jelasnya.
Editor : Arif Ardliyanto