Presiden Prabowo Hadiri Puncak Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana Malang
MALANG, iNewsSurabaya.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menghadiri puncak peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangkaian Mujahadah Kubro yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2/2026).
Kegiatan Mujahadah Kubro berlangsung selama dua hari, 7–8 Februari 2026, dan diikuti puluhan ribu warga Nahdliyin dari berbagai daerah. Rangkaian acara diisi dengan doa bersama, dzikir, serta refleksi kebangsaan mengusung tema “Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, dan Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban.”
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas peran besar Nahdlatul Ulama dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, NU menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan bangsa.
“NU selalu menjaga persatuan. Ketika negara dalam bahaya, NU selalu hadir untuk bangsa Indonesia,” tegasnya.
Presiden juga menilai NU konsisten merawat kerukunan antarumat beragama. Nilai toleransi yang dijunjung tinggi dinilai sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa.
“NU diharapkan terus memberikan contoh toleransi antarumat beragama. Saya yakin NU akan terus menjaga bangsa dan seluruh umat tanpa pandang bulu,” ujarnya.
Senada dengan Presiden, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa NU telah membuktikan diri sebagai organisasi keagamaan dan kebangsaan yang mampu bertahan serta tetap relevan selama satu abad perjalanan Indonesia. NU dinilai konsisten menjaga tradisi, toleransi, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan peradaban nasional.
“NU mengedepankan Islam moderasi atau Islam wasathiyah yang menjaga toleransi, tradisi kenusantaraan, serta berkontribusi dalam pengembangan peradaban melalui lembaga pendidikan,” katanya.
Ia menjelaskan, jaringan pesantren NU yang luas—baik tradisional maupun modern—menjadi pusat pengembangan ilmu keislaman sekaligus pembentukan karakter umat.
“Pesantren menjadi ruang bertumbuhnya generasi yang dibekali ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Khofifah menilai di usia satu abad, NU telah menjadi rumah besar umat yang mampu mengayomi masyarakat lintas latar belakang. Semangat Islam moderat yang terus dirawat NU menjadi perekat keberagaman Indonesia.
“Ibarat rumah, NU adalah rumah besar yang kokoh, penuh toleransi, serta memberi keteduhan bagi masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, dinamika internal yang terjadi sepanjang perjalanan NU justru menjadi kekuatan organisasi karena mampu menjaga keharmonisan serta merangkul berbagai kalangan untuk bersama merawat persatuan bangsa.
Editor : Arif Ardliyanto