Tangis Eri Cahyadi Iringi Kepergian Ketua DPRD Surabaya, Air Mata Tumpah di Grand Heaven
Sosok Penyejuk di Tengah Dinamika Politik
Bagi Eri, almarhum adalah pemimpin sejati yang mampu “ngemong” atau membimbing semua pihak. Dalam berbagai dinamika politik dan kebijakan, komunikasi antara Pemkot dan DPRD disebutnya terjalin kuat berkat peran Awi.
“Saya sering berbagi dan bertukar pikiran dengan beliau, bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik bagi warga Surabaya. Beliau itu orang yang bisa ngemong semuanya,” kenangnya.
Di mata Eri, ketenangan almarhum saat menghadapi tekanan, kritik, bahkan fitnah, menjadi pelajaran berharga. Ia mengaku selalu mengingat pesan sederhana yang pernah disampaikan Awi.
“Ketika kita tidak berbuat apa-apa tapi dituduh dan disakiti, biarlah Tuhan yang membalas. Dan balasan itu pasti akan datang,” tutur Eri, mengulang petuah yang kini terasa begitu membekas.
Hubungan keduanya tak berhenti pada urusan pemerintahan. Eri menganggap almarhum sebagai sosok kakak yang layak menjadi panutan. Dalam berbagai kesempatan, ia belajar tentang kesabaran, kepemimpinan, dan cara menyikapi persoalan dengan kepala dingin.
Tangisan di samping peti jenazah sore itu menjadi potret kedekatan yang tak banyak diketahui publik. Politik, jabatan, dan perbedaan pendapat seakan luruh, menyisakan rasa kehilangan yang tulus.
Eri pun berharap seluruh dedikasi dan perjuangan almarhum untuk Kota Surabaya menjadi amal baik.
“Semoga dengan segala kebaikan dan dedikasi beliau, surgalah yang pantas untuk beliau. Harmoni yang begitu kuat antara Pemkot dan DPRD itu karena kehadiran Ketua DPRD yang mampu merangkul dan membimbing,” pungkasnya.
Kepergian Dominikus Adi Sutarwijono meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga dan kolega, tetapi juga bagi perjalanan pemerintahan Kota Surabaya yang selama ini berjalan dalam semangat kolaborasi.
Editor : Arif Ardliyanto