Penyakit Jantung Serang Usia 30–40 Tahun, RS di Surabaya Ini Buat Terobosan Penanganan Pasien
Keunggulan utama layanan ini terletak pada kesiapan penanganan kegawatdaruratan jantung selama 24 jam penuh. Dokter spesialis jantung berjaga langsung di rumah sakit, bukan sekadar sistem on-call.
Fasilitas yang tersedia meliputi:
Cath-lab untuk tindakan intervensi seperti pemasangan ring jantung
Tim bedah toraks kardiovaskular untuk operasi bypass dan bedah jantung terbuka
Layanan rehabilitasi medik pascaoperasi
Chest Pain Unit (CPU) terintegrasi dengan IGD
Chest Pain Unit menjadi lini pertama dalam mendeteksi keluhan nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar. Evaluasi cepat dilakukan guna memastikan apakah gejala tersebut berhubungan dengan gangguan jantung atau tidak.
Menariknya, rumah sakit juga menyediakan skrining jantung gratis bagi pasien yang hasil pemeriksaannya tidak menunjukkan gangguan jantung. Kebijakan ini diharapkan mendorong masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan saat gejala muncul.
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular, dr. dr. Yan Efrata Sembiring, Sp.B, Sp.BTKV(K), mengungkapkan bahwa tren pasien usia muda semakin nyata.
“Dulu pasien rata-rata di atas 60 tahun. Sekarang banyak yang berusia 40 tahun, bahkan saya pernah menangani pasien usia 28 tahun. Ini alarm serius bagi kita semua,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penyakit jantung bukan lagi sekadar risiko usia lanjut, tetapi juga gaya hidup. Karena itu, deteksi dini dan akses layanan cepat menjadi kunci penyelamatan nyawa.
Dengan integrasi layanan dalam satu atap, kesiapan tim medis 24 jam, fasilitas lengkap dari cath-lab hingga bedah jantung terbuka, serta dukungan deteksi dini melalui Chest Pain Unit, Mayapada Hospital Surabaya optimistis mampu memangkas antrean dan mempercepat tindakan medis.
Lebih dari sekadar pusat layanan kesehatan, Heart & Vascular Center ini diharapkan menjadi harapan baru bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia yang membutuhkan penanganan jantung cepat, tepat, dan berstandar tinggi—tanpa harus pergi jauh dari rumah.
Editor : Arif Ardliyanto