Kisah Haru KH Hasyim Asy’ari Sambut Tamu, Dari Cerita Pepaya hingga Jamuan Makan Bersama
Sebuah Pepaya dan Rasa Syukur
Ada kisah sederhana namun membekas. Suatu hari, seorang tamu datang membawa oleh-oleh buah pepaya. Alih-alih menerima biasa saja, Kiai Hasyim menyambutnya dengan wajah sumringah.
“Alhamdulillah, alhamdulillah, pucuk dicita ulam tiba. Saya sudah lama ingin buah pepaya,” ucap beliau berulang kali.
Ucapan terima kasih dan doa dipanjatkan dengan penuh kegembiraan. Padahal, mungkin saja pepaya itu bukan barang istimewa. Namun cara beliau menghargainya membuat sang pemberi merasa sangat berarti.
Di situlah letak kebesaran jiwa: mampu memuliakan pemberian sekecil apa pun.
Pertemuan Tahun 1943 di Tebuireng
Kenangan lain datang dari tahun 1943. Saat itu, Saifuddin Zuhri yang menjabat Pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Wilayah Jawa Tengah singgah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Ia disambut hangat oleh Wahid Hasyim—putra Kiai Hasyim—yang kemudian mengantarnya menghadap sang ayah.
Saat memasuki ruangan, Zuhri mendapati Kiai Hasyim duduk bersila sambil membaca surat. Usianya telah lebih dari 70 tahun, namun penglihatannya masih tajam tanpa kacamata. Busana beliau sederhana: baju putih tanpa leher seperti piyama Jawa, bersarung, dan berserban.
Percakapan awal antara ayah dan anak berlangsung dalam bahasa Arab. Sesekali diselingi bahasa Jawa halus. Namun begitu mengetahui Zuhri berasal dari kalangan Pemuda Ansor, Kiai Hasyim langsung beralih menggunakan bahasa Indonesia.
Bahasanya terucap halus, sistematis, dan runtut. Tidak ada kesan berjarak. Seolah beliau ingin memastikan tamunya merasa nyaman dan dimengerti.
Kisah-kisah ini bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia menjadi pelajaran tentang bagaimana seorang ulama besar mempraktikkan nilai Islam secara nyata: menghargai manusia tanpa melihat status sosial.
Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh protokoler, teladan KH Muhammad Hasyim Asy’ari terasa semakin relevan.
Bahwa memuliakan tamu bukan tentang jamuan mewah, tetapi tentang ketulusan hati.
Dan dari rumah sederhana di Tebuireng, pelajaran itu terus hidup—dari generasi ke generasi.
Editor : Arif Ardliyanto